Home Teknologi

Xiaomi 18 Ultra 99 Persen Batal, Tapi Riset Kamera HP Flagship Malah Makin Gila

13 Juli 2026 5 min read

Pengembangan Xiaomi 18 Ultra hampir pasti dihentikan karena biaya komponen yang melonjak, namun riset kamera LOFIC dan gimbal 8 derajat di lini flagship lain justru makin ambisius.

Ilustrasi masa depan flagship kamera ultra Xiaomi, Vivo, dan Oppo di tengah ketidakpastian pengembangan
(Foto: Weibo)

Angkanya cukup mengejutkan buat saya: 99 persen. Itu tingkat keyakinan seorang pembocor info soal nasib Xiaomi 18 Ultra yang kemungkinan besar tidak akan pernah sampai ke tangan konsumen. Padahal, di saat yang sama, dari laboratorium riset berbagai merek justru muncul ide-ide kamera yang terdengar terlalu bagus untuk dibatalkan. Ada semacam paradoks yang terjadi di segmen flagship kamera saat ini, inovasi teknisnya makin menggila, tapi unit yang bisa membawanya ke pasar justru makin terancam.

  • Xiaomi 18 Ultra 99 persen dipastikan batal dikembangkan, menurut pembocor dari India, Yogesh Brar
  • Biaya komponen yang meroket disebut sebagai penyebab utama; harga flagship kini sudah menembus angka 2.000 euro atau sekitar Rp36 juta (harga global)
  • Oppo Find X10 Ultra disebut sebagai pengembangan paling stabil, dengan bocoran lensa telefoto 10x yang lebih besar dan sensor persegi di depan
  • Teknologi LOFIC untuk meningkatkan dynamic range kamera flagship serta stabilisasi gimbal Vivo dengan kompensasi hingga 8 derajat sedang diuji di tahap lab awal

Harga flagship yang sudah di luar nalar

Saya perlu kasih konteks kenapa kabar pembatalan ini serius. Harga ponsel flagship kamera sekarang sudah menyentuh 2.000 euro, atau sekitar Rp36 juta dengan kurs saat ini. Angka itu bahkan diprediksi akan terus naik. Sebagai perbandingan, Xiaomi 17 Ultra yang rilis di Eropa dijual sekitar 1.300 euro, sekitar Rp23 jutaan, dan itu mulai terlihat seperti "harga miring" kalau kita bandingkan dengan prediksi harga iPhone Ultra ke depan.

Tapi kenyataannya, semakin sedikit konsumen yang bersedia membayar harga segitu. Margin produsen tertekan dari dua sisi sekaligus: biaya produksi naik, daya beli tidak mengikuti. Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan siklus rilis tahunan di segmen ultra-high-end mulai terasa tidak realistis. Wajar kalau Xiaomi, setidaknya menurut bocoran yang beredar, memilih menarik rem darurat untuk penerus 17 Ultra.

Xiaomi 18 Ultra batal, tapi bukan berarti tidak ada penerus

Ini bagian yang sedikit membingungkan tapi patut dicermati. Selain konfirmasi 99 persen batal dari Yogesh Brar, ada pembocor lain, Kartikey Singh, yang memberi sinyal bahwa mungkin bukan berarti Xiaomi sepenuhnya keluar dari segmen ini. Singgungannya mengarah ke kemungkinan lompatan langsung ke Xiaomi 19 Ultra dengan jadwal lebih awal, atau mungkin ke seri Mix yang selama ini lebih sering jadi playground eksperimental Xiaomi.

Seri Mix itu sendiri dirumorkan akan mengusung chipset XringO3 yang juga belum diumumkan, plus beberapa fitur yang tadinya direncanakan untuk 18 Ultra. Kalau bocoran ini akurat, strateginya cukup masuk akal: Xiaomi tidak kehilangan hasil riset yang sudah berjalan, hanya memindahkannya ke produk yang mungkin secara bisnis lebih feasible. Tapi perlu diingat, seri Mix biasanya hanya rilis di China, jadi konsumen Indonesia kemungkinan besar tetap tidak akan melihatnya secara resmi.

Oppo Find X10 Ultra di posisi paling aman

Dari tiga merek yang dibahas dalam bocoran, Oppo Find X10 Ultra disebut sebagai pengembangan yang paling stabil untuk rilis 2027. Kolaborasi dengan Hasselblad tampaknya masih menjadi fondasi yang kuat bagi Oppo untuk melanjutkan lini ini. Saya menduga ini karena strategi pembaruannya yang lebih moderat, bukan lompatan radikal, melainkan penyempurnaan dari Find X9 Ultra.

Yang sudah mulai bocor: lensa telefoto 10x akan diperbesar, ini menarik karena biasanya telefoto ekstrem justru dikorbankan lebih dulu demi efisiensi ruang. Selain itu, ada indikasi penggunaan sensor berbentuk persegi di bagian depan. Kalau ini bukan kesalahan penerjemahan dari istilah "square sensor", bisa jadi Oppo sedang bereksperimen dengan layout sensor yang berbeda, sesuatu yang jarang terjadi di kamera depan flagship.

LOFIC: meningkatkan dynamic range tanpa mengorbankan resolusi

Salah satu teknologi yang muncul dari bocoran lab adalah LOFIC, singkatan dari Lateral Overflow Integration Capacitor. Intinya, teknologi ini memungkinkan sensor menangkap rentang cahaya yang jauh lebih lebar, dari area paling gelap sampai paling terang, tanpa kehilangan detail di kedua ujung. Dan yang membuatnya menarik: ini bisa dicapai tanpa menurunkan resolusi sensor.

Bocoran menyebutkan kandidat pertama yang akan mengadopsi LOFIC adalah kamera utama 200 MP berbasis sensor Sony LYT-901 1/1.12-inci. Belum jelas apakah ini Oppo Find X10 Ultra atau model lain, tapi sensor berukuran hampir 1 inci dengan LOFIC dan 200 MP terdengar seperti mimpi buruk buat kamera dedicated entry-level. Xiaomi sebenarnya juga sempat mengeksplorasi LOFIC sebelum pengembangan 18 Ultra dihentikan, bahkan untuk kamera telefoto zoom optik variable focal length sekalipun. Membayangkan telefoto dengan dynamic range setara kamera utama adalah prospek yang sangat menggoda, tapi ya, itu tadi, tertahan di meja lab.

Gimbal stabilization sampai 8 derajat

Vivo mengambil jalur berbeda. Kalau Oppo dan Xiaomi mengejar dynamic range, Vivo sejak X300 Ultra sudah menunjukkan obsesinya pada stabilisasi gambar. Bocoran Digital Chat Station sekarang menyebut angka yang cukup gila: kompensasi OIS hingga 8 derajat untuk penerusnya di 2027.

Sekadar konteks: OIS konvensional di smartphone biasanya punya rentang kompensasi sekitar 1-2 derajat. Vivo X300 Ultra saja sudah cukup mencuri perhatian dengan OIS 3 derajat. Lompatan ke 8 derajat, kalau benar-benar bisa diproduksi massal, akan sangat mendekati performa gimbal fisik. Tapi ada harga yang harus dibayar. Semakin besar rentang gerak OIS, semakin besar ruang yang dibutuhkan modul kamera. Itu bisa berarti sensor yang lebih kecil, atau bodi ponsel yang lebih tebal. Bocoran sendiri mengakui bahwa ini masih tahap lab, dan konsumen kemungkinan besar harus bersabar, mungkin dengan siklus upgrade 2 tahunan yang lebih realistis ketimbang rilis tahunan.

Riset dan realitas pasar yang bertabrakan

Saya melihat ada ironi yang cukup pahit di sini. Di satu sisi, insinyur di lab sedang memecahkan masalah teknis yang dulu dianggap mustahil di form factor smartphone, dynamic range kamera profesional, stabilisasi setara gimbal, telefoto variabel. Di sisi lain, departemen bisnisnya sendiri yang menarik steker karena angka di spreadsheet tidak mendukung.

Fenomena ini tidak eksklusif di Xiaomi. Kalau Yogesh Brar benar, flagship ultra lainnya juga dalam posisi terancam, meskipun sejauh ini Oppo dan Vivo tampaknya masih bertahan di jalur pengembangan. Buat saya pribadi, ini semacam pengingat bahwa tidak semua inovasi punya jalur langsung ke tangan konsumen. Kadang teknologinya siap, tapi struktur biaya dan pasar belum mendukung. Dan kadang justru sebaliknya, pasar sudah menunggu, tapi teknologinya belum matang.

Satu hal yang bisa saya simpulkan: flagship kamera 2027 mungkin akan menjadi lebih langka, lebih mahal, tapi juga jauh lebih impresif secara teknis, untuk segelintir orang yang benar-benar mampu dan bersedia membayarnya. Buat kita yang hanya ingin kamera ponsel bagus tanpa menjual satu ginjal, semoga saja teknologi yang sedang diuji di lab ini akhirnya menetes ke segmen harga yang lebih masuk akal. Meskipun kalau melihat tren harga 2.000 euro yang sudah di depan mata, saya tidak akan menahan napas.


Ilustrasi teknologi LOFIC pada kamera utama smartphone dengan sensor mendekati 1 inci
Teknologi LOFIC disebut-sebut mampu meningkatkan dynamic range secara signifikan tanpa mengorbankan resolusi tinggi. (Foto: Weibo)



Konsep modul stabilisasi gimbal untuk Vivo X500 Ultra dengan kompensasi hingga 8 derajat
Vivo dikabarkan mengejar stabilisasi setara gimbal di smartphone dengan OIS yang mampu mengompensasi hingga 8 derajat. (Foto: Weibo)


#Smartphone#Xiaomi#Xiaomi 18 Ultra#Berita#Flagship#Kamera#Oppo Find X10 Ultra#Vivo X500 Ultra
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →