Dulu, Steam Deck sempat jadi primadona. Saya ingat betul obrolan di forum dan grup diskusi, semua orang menganggapnya sebagai PC handheld dengan value terbaik di kelasnya. Dengan harga peluncuran mulai dari USD 399 atau sekitar Rp6 jutaan untuk model LCD 64 GB, perangkat ini terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan. Namun, lanskapnya kini sudah berubah total. Valve sudah menyetop model LCD terjangkau itu, dan di tahun 2026 ini, untuk mendapatkan versi OLED-nya, Anda harus merogoh kocek minimal Rp12,4 jutaan (USD 789). Inilah yang kemudian oleh banyak pengguna Reddit disebut sebagai “The Great Steam Deck Crash.” Sebuah analisis dari Boiling Steam kini memperkirakan seberapa dalam luka finansial yang mungkin dialami Valve akibat strategi baru ini.
- Valve menghentikan model LCD murah dan menaikkan harga model OLED secara signifikan dari USD 549 menjadi USD 789.
- Estimasi penjualan mingguan anjlok dari 11.000-18.000 unit menjadi hanya sekitar 1.400-3.000 unit.
- Pendapatan mingguan Valve dari Steam Deck diperkirakan turun sekitar USD 6 juta, atau setara Rp96 miliar.
- Komunitas menilai daya tarik utama Steam Deck yang dulu menggoda adalah kombinasi performa cukup dan harga terjangkau.
Dulu Rajai Papan Atas, Sekarang Terpuruk di Luar 10 Besar
Saya suka dengan cara Boiling Steam membedah data ini. Mereka tidak punya akses ke angka penjualan persisnya, tapi mereka mengamati tangga penjualan teratas Steam yang dirangking berdasarkan pendapatan, bukan unit terjual. Dari situ, kita sebenarnya bisa melihat tren dengan cukup jelas.
Selama beberapa tahun terakhir, posisi Steam Deck sangat nyaman. Menurut publikasi yang fokus pada Linux tersebut, perangkat ini biasanya menghuni posisi empat atau lima besar. Posisi itu diperkirakan setara dengan penjualan 11.000 sampai 18.000 unit per minggu. Angka yang sangat solid untuk kategori perangkat yang dulunya dianggap niche.
Sekarang? Perangkat ini terpeleset ke posisi ke-14. Boiling Steam memperkirakan posisi tersebut hanya mewakili 1.400 sampai 3.000 unit terjual per minggu. Jika dihitung kasar, itu adalah penurunan volume penjualan hingga 82 persen. Kalau diterjemahkan ke dalam nominal, Valve diperkirakan kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp96 miliar (USD 6 juta) setiap minggunya dari Steam Deck saja.
Komunitas Mulai Angkat Tangan: Sudah Tidak Worth It
Penurunan ini sama sekali tidak mengejutkan bagi komunitas di Reddit. Saya membaca beberapa utas diskusi di sana, dan ada satu benang merah yang terasa: rasa sayang pada perangkatnya masih ada, tapi logika sudah tidak bisa lagi membenarkan rekomendasi. Banyak pemilik bilang bahwa mereka masih mencintai Steam Deck miliknya, tapi tidak mungkin lagi merekomendasikannya ke teman dengan harga sekarang.
Alasannya masuk akal. Hardware di dalam Steam Deck, sejujurnya, sudah berusia beberapa tahun. Ia mulai sering terengah-engah saat dipaksa menjalankan game-game AAA modern. Dulu, kelemahan ini masih sangat bisa dimaafkan karena harganya yang bersahabat. Tapi di titik harga hampir Rp12,5 jutaan, ceritanya jadi lain. Di kisaran harga segitu, Anda sudah sangat dekat dengan jajaran handheld yang secara signifikan lebih bertenaga.
Kita bicara soal Asus ROG Ally X, Lenovo Legion Go, atau bahkan laptop gaming murni. Semangat yang saya tangkap dari komunitas sangat jelas: dahulu, Steam Deck begitu menggoda justru karena ia duduk manis di titik temu antara harga murah dan performa cukup. Sekarang, ketika salah satu pilar utamanya yaitu harga, telah runtuh, banyak yang merasa perangkat ini kehilangan nilai jual terbesarnya.