Home Teknologi

Steam Machine Diuji 60 Game Lebih, Ini Verdict Jujur dari Reddit

11 Juli 2026 5 min read

Pengguna Reddit yang menjuluki dirinya "Unscientific Testing Guy" membagikan verdict jujur tentang Steam Machine setelah sembilan hari menjajal lebih dari 60 game. Ia memuji antarmuka SteamOS yang ramah untuk semua kalangan serta performa yang melampaui ekspektasi, meski preset grafis bawaan dan gangguan third-party launcher masih menjadi ganjalan.

Ilustrasi Steam Machine dari Valve yang diuji oleh pengguna Reddit dengan lebih dari 60 game untuk memberikan verdict tanpa metode ilmiah
(Foto: Valve)

Kalau kamu mengikuti rumor soal Steam Machine, perangkat living room PC dari Valve ini memang bikin penasaran. Tapi sejauh ini, informasi yang beredar lebih banyak berupa angka benchmark dingin dan video hands-on singkat yang kadang tidak mewakili pemakaian sehari-hari. Nah, muncul satu utas di Reddit dari pengguna yang menamai dirinya sendiri sebagai si "Unscientific Testing Guy." Ia bukan reviewer profesional. Ia hanya pengguna biasa yang sudah sembilan hari menggunakan Steam Machine, menjajal lebih dari 60 game, dan kini membagikan verdict jujurnya. Buat saya, laporan semacam ini jauh lebih berguna: tidak ada embel-embel endorsement, tidak ada frame rate chart rumit. Hanya pengalaman langsung dari seseorang yang memakai perangkat ini di ruang tamunya.

  • Reddit u/arex333 merangkum pengalaman sembilan hari bersama Steam Machine, termasuk hasil uji coba lebih dari 60 game.
  • SteamOS mendapat pujian karena antarmuka yang sederhana dan mudah dipakai, bahkan untuk anggota keluarga yang tidak terbiasa dengan PC.
  • Performa dinilai melampaui ekspektasi, dengan mayoritas game berjalan lancar meskipun perlu penyesuaian resolusi dan pengaturan grafis.
  • Mesin beroperasi sangat senyap, berukuran ringkas, dan kompatibel dengan banyak periferal, tapi preset grafis bawaan kadang mengecewakan.
  • Harga dan ketersediaan resmi global maupun Indonesia belum diumumkan.

Sistem Operasi yang Mencuri Perhatian

Yang paling banyak disanjung sebenarnya bukan spek mesinnya, melainkan SteamOS. Menurut laporan si penguji, antarmuka sistem operasi ini terasa lugas dan mendekati konsol sungguhan. Menariknya, ia masih menyediakan mode desktop untuk kamu yang ingin fleksibilitas ala PC. Ini semacam jembatan yang selama ini tidak benar-benar berhasil dibangun oleh platform lain. Bahkan istrinya yang ia klaim tidak terlalu jago urusan teknologi pun lancar mengoperasikannya. Buat saya, ini poin penting: Steam Machine tidak hanya menyasar gamer PC hardcore, tapi juga orang-orang yang ingin pengalaman konsol tanpa ribet.

Implikasinya bisa lebih luas dari sekadar perangkat Valve sendiri. Kalau SteamOS benar-benar sematang ini, mini PC berbasis sistem yang sama bisa jadi alternatif menarik untuk pasar yang lebih luas. Kamu tidak harus terikat ke hardware spesifik untuk menikmati ekosistem Steam di TV. Ini membuka kemungkinan variasi perangkat dari vendor lain, selama mereka mengadopsi SteamOS.

Performa: Tidak Selalu Soal 4K

Dari lebih 60 game yang dicoba, hanya dua judul yang gagal memberikan pengalaman memuaskan: Borderlands 4 dan Star Wars Jedi: Survivor. Itu pun setelah ia mencoba menyetel ulang konfigurasi sebaik mungkin. Selebihnya, pengalaman bermain di Steam Machine ia nilai lancar. Salah satu pengakuan jujurnya yang paling saya hargai adalah soal resolusi. Ia menyebut perbedaan antara 1440p, 1620p, sampai 1800p sulit dibedakan dari jarak duduk normal, dan bahkan menyebut 4K "overrated" dalam konteks ini. Secara subjektif, saya bisa mengerti perspektif ini. Tidak semua mata setajam layar spesifikasi. Kalau kamu duduk sekitar dua meter dari TV, kenaikan resolusi tertinggi memang tidak selalu terasa signifikan. Justru stabilitas frame rate yang lebih terasa.

Tapi ini juga jadi sumber perdebatan kecil di utas itu. Banyak anggota komunitas Reddit yang mengakui bahwa Steam Machine realistisnya lebih cocok untuk bermain di 1440p atau 1800p, tapi tidak setuju kalau 4K dianggap berlebihan. Menurut mereka, di game AAA modern, perbedaan 4K masih cukup kasat mata. Ini bukan soal siapa yang benar, melainkan soal ekspektasi: kalau kamu adalah tipe yang sensitif terhadap ketajaman tekstur dan efek visual di level tertinggi, klaim "4K tidak penting" mungkin kurang cocok buatmu.

Desain Ringkas dan Operasi Senyap

Satu hal yang sulit disangkal adalah build quality fisiknya. Steam Machine disebut punya ukuran yang kompak dan berjalan nyaris tanpa suara. Ini adalah kombinasi yang saya kira cukup krusial untuk perangkat yang akan diletakkan di ruang tengah. Tidak ada yang mau konsol berisik saat sedang nonton bareng atau main game santai di sofa. Si pengguna juga melaporkan bahwa game yang dijalankan dari kartu SD cepat ternyata tetap terasa mulus, tanpa perbedaan waktu muat yang signifikan. Artinya, kamu tidak perlu selalu bergantung pada penyimpanan internal yang mungkin terbatas.

Saya perhatikan juga laporan kompatibilitas periferal membuat saya cukup optimis. Dari controller, headphone, keyboard, mouse, hingga media penyimpanan eksternal hampir semuanya berfungsi tanpa masalah. Ini mengurangi satu kekhawatiran umum: perangkat baru yang ekosistem aksesorinya masih terbatas atau rewel saat pairing.

Gangguan yang Memecah Rasa "Konsol"

Satu kelemahan yang ia beberkan secara jujur adalah soal preset grafis. Ini bukan hal sepele buat pengguna yang mengharapkan pengalaman plug-and-play. Beberapa game lawas terbuka di resolusi aneh, sementara game yang lebih berat bisa berjalan di kisaran 20 FPS kalau langsung dimainkan tanpa mengatur ulang grafisnya. Kamu dipaksa untuk menyisihkan waktu menyetel resolusi, opsi grafis, dan target performa sebelum benar-benar bisa menikmati game. Buat saya, ini masuk akal karena basisnya tetap PC. Tapi untuk orang yang berharap pengalaman sehalus console tradisional, langkah tambahan ini agak mengganggu.

Lalu ada soal third-party launcher. Game seperti Star Wars Jedi: Survivor dan Assassin's Creed Valhalla masih membutuhkan software tambahan, proses login, dan jendela antarmuka yang kikuk. Momen seperti ini langsung mengingatkan kamu bahwa di balik antarmuka SteamOS yang bersih, jantung mesin ini tetaplah PC. Saya bisa membayangkan betapa anehnya transisi dari sebuah menu konsol yang mulus ke sebuah pop-up launcher yang jelas didesain untuk mouse dan keyboard.

Ditambah lagi, game multiplayer yang mengandalkan sistem anti-cheat seperti Marathon, Apex Legends, dan Call of Duty juga tidak bisa dimainkan. Ini bukan kejutan besar karena masalah yang sama sudah dialami Steam Deck. Tapi tetap perlu dicatat untuk kamu yang kebanyakan bermain game kompetitif daring.

Penutup: Untuk Siapa Perangkat Ini?

Laporan ini secara jujur saya nilai sebagai salah satu gambaran paling utuh tentang Steam Machine sejauh ini. Ia bukan angka sintetis, melainkan akumulasi puluhan jam penggunaan sehari-hari oleh seseorang yang mengetesnya dengan niat "unscientific", apa adanya, tanpa pretensi. Kamu bisa melihat siapa yang paling diuntungkan: gamer PC yang ingin pengalaman ruang tamu tanpa kehilangan fleksibilitas, atau siapa pun yang penasaran dengan SteamOS tapi tidak mau terpaku ke hardware handheld. Di sisi lain, kalau kamu mencari pengalaman yang benar-benar bebas repot seperti konsol tradisional, laporan ini juga mengingatkan bahwa Steam Machine belum sepenuhnya di sana. Masih ada pengaturan yang perlu diutak-atik, dan kejutan dari launcher pihak ketiga yang siap merusak ilusi.

Yang masih menggantung tentu saja harga dan ketersediaan. Tanpa informasi itu, semua verdict di atas ibarat menilai mobil tanpa tahu banderolnya. Apakah akan sebanding dengan pengorbanan kecil yang perlu kamu lakukan? Kita belum tahu. Satu yang pasti, saya akan mengamati apakah Valve benar-benar bisa menjadikan SteamOS sebagai platform living room yang matang, bukan sekadar eksperimen yang ditinggalkan di tengah jalan.

#PC Gaming#Valve#Steam Machine#SteamOS#Review#Living Room PC#Komunitas
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →