Home Teknologi

Microsoft Copilot Ternyata Bisa Diperintah Diam-diam oleh Website, Ini Celah Kritisnya

16 Juli 2026 5 min read

Microsoft menambal kerentanan kritis di Copilot yang memungkinkan website berbahaya mengirim perintah ke AI tanpa sepengetahuan pengguna. Cukup dengan mengunjungi halaman web, tanpa klik atau unduh apa pun.

Ilustrasi kerentanan Microsoft Copilot di smartphone yang bisa dieksploitasi melalui website berbahaya
(Foto: Microsoft)

Patch Tuesday Juli 2024 membawa satu kerentanan yang mungkin bikin kamu melirik aplikasi Copilot di ponsel dengan perasaan tidak enak. Microsoft menambal celah keamanan berkode CVE-2026-48561 dengan skor keparahan CVSS 9,6 dari 10, hampir sempurna. Yang bikin merinding bukan angkanya, tapi mekanisme serangannya: cukup mengunjungi sebuah website, dan AI kamu bisa diperintah tanpa sepengetahuanmu.

  • Microsoft menambal kerentanan kritis CVE-2026-48561 di Microsoft 365 Copilot untuk Android dan iOS pada Patch Tuesday, 14 Juli 2026.
  • Serangan dilakukan melalui browser, website berbahaya bisa mengirimkan perintah otomatis ke Copilot tanpa konfirmasi pengguna.
  • Kerentanan diklasifikasikan sebagai command injection dan dilaporkan oleh Ofek Levin dari firma keamanan Enclave.
  • Microsoft mengklaim kerentanan belum dieksploitasi, tapi tidak menyebutkan versi pasti aplikasi yang sudah ditambal.

Hanya perlu satu kali kunjungan website

Vektor serangannya sesederhana mungkin. Seseorang membuat website berbahaya yang dirancang untuk mengelabui Microsoft Edge di Android agar otomatis mengirimkan crafted prompts ke aplikasi Copilot di perangkat. Kamu tidak perlu mengklik apa pun, tidak perlu mengunduh file, tidak perlu memberikan izin. Cukup mendarat di halaman tersebut.

Akar masalahnya ada di cara pemrosesan. Komponen yang terdampak menerima permintaan-permintaan ini tanpa meminta konfirmasi dan tanpa memverifikasi asalnya. Prompt dijalankan begitu saja, tanpa pengguna menyadarinya. Microsoft menyebut konsekuensi yang mungkin terjadi termasuk akses atau modifikasi data yang tidak diinginkan di Copilot. Secara teknis, ini diklasifikasikan sebagai command injection, sebuah kategori serangan di mana penyerang bisa menyisipkan perintah ke sistem yang seharusnya hanya menerima input biasa.

Mekanisme ini mengingatkan saya pada serangan CSRF (Cross-Site Request Forgery) jaman dulu, tapi sekarang targetnya bukan form login, melainkan asisten AI yang mungkin punya akses ke dokumen, email, dan data pribadi kamu di ekosistem Microsoft 365. Bedanya, AI bisa melakukan tindakan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengubah password.

Aplikasi mana yang terdampak, dan keanehan di advisory

Di advisory resminya, Microsoft mencantumkan dua produk yang terdampak: Microsoft 365 Copilot untuk iOS dan Microsoft 365 Copilot untuk Android. Tapi ada yang janggal. Deskripsi vektor serangan hanya menyebut Microsoft Edge untuk Android. Mengapa iOS ikut disebut? Microsoft tidak memberikan penjelasan soal inkonsistensi ini.

Keanehan lain: link pembaruan yang disediakan di advisory tidak mengarah ke aplikasi Copilot. Untuk kedua platform, link tersebut justru membawa ke halaman Microsoft Edge di App Store dan Google Play. Microsoft juga tidak menyebutkan build number spesifik yang menandakan kerentanan sudah ditambal. Catatan rilis Edge Mobile versi terbaru, 150.0.4078.65 yang dirilis 13 Juli 2026 untuk Android dan iOS, bahkan tidak mencantumkan kerentanan ini sama sekali.

Bagi saya, ini menunjukkan satu hal: Microsoft tampaknya menambal celah ini di level browser, bukan di aplikasi Copilot itu sendiri. Masuk akal jika mengingat vektor serangannya, Edge yang menjembatani website berbahaya dengan aplikasi Copilot di perangkat. Tapi ketidakjelasan ini tetap membuat frustrasi, terutama untuk kerentanan dengan skor hampir sempurna.

Apa yang harus kamu lakukan sekarang

Kabar baiknya: menurut Microsoft, kerentanan ini tidak diketahui publik sebelum Patch Tuesday dan belum pernah dieksploitasi. Belum ada working exploit yang beredar, dan Microsoft menilai kemungkinan eksploitasi cukup rendah. Kerentanan ini juga tidak muncul di daftar known exploited vulnerabilities milik CISA.

Tapi jangan lengah. Karena Microsoft tidak menyebutkan versi spesifik yang sudah ditambal, pendekatan paling praktis adalah memastikan aplikasi Copilot dan Microsoft Edge di ponsel kamu selalu dalam versi terbaru. Update lewat Play Store untuk Android dan App Store untuk iOS. Kalau kamu sebenarnya tidak menggunakan Copilot di ponsel, opsi paling aman adalah menghapus aplikasinya, satu lebih sedikit permukaan serangan yang perlu dikhawatirkan.

Bukan yang pertama, dan tidak akan jadi yang terakhir

Serangan yang menyusup ke hubungan antara pengguna dan asisten AI sedang meningkat. Akhir Juni lalu, peneliti menemukan ad blocker palsu yang bisa membaca obrolan pengguna dengan ChatGPT dan Gemini. Polanya mirip: ekstensi browser yang terlihat biasa saja ternyata menyedot data percakapan ke server pihak ketiga.

Ini pola yang harus mulai kita waspadai. Semakin banyak aplikasi dan layanan yang mengintegrasikan AI, semakin banyak jembatan baru yang bisa dieksploitasi antara input pengguna dan model bahasa. Kerentanan Copilot ini menunjukkan bahwa jembatan itu bahkan tidak perlu dijebol dengan malware canggih, cukup dengan website yang dibuat khusus, sesuatu yang bisa di-host dengan biaya hampir nol dan disebarkan lewat link di media sosial atau email.

Kalau kamu ingin tahu data apa saja yang dikumpulkan asisten AI-mu dan bagaimana menonaktifkannya, ada baiknya meluangkan waktu memeriksa pengaturan penyimpanan di akun Microsoft kamu. Dan kalau Copilot mulai terasa mengganggu di hari kerja, Microsoft sebenarnya menyediakan cara untuk menonaktifkan Copilot dan Facilitator di Microsoft Teams. Tidak ada salahnya mengurangi permukaan serangan selagi celah seperti ini masih terus bermunculan.

#Keamanan Siber#Microsoft#Microsoft Copilot#Kerentanan AI#Patch Tuesday#Command Injection#Aplikasi Mobile#CVE-2026-48561
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →