Setahun setelah MatePad Air pertama, Huawei kembali dengan penerusnya. Sekilas melihat daftar spesifikasi, kesannya cuma upgrade natural: layar ganti panel, bodi sedikit lebih tipis, bobot turun. Tapi kalau diperhatikan lebih saksama, justru di sinilah letak kemenarikannya. Huawei tidak mencoba mendefinisikan ulang tablet ini secara radikal, tapi mereka membenahi detail-detail yang secara kumulatif mengubah bagaimana rasanya menggunakannya sehari-hari.
- Huawei mengumumkan MatePad Air (2026) secara global bersamaan dengan seri Pura.
- Bodi baru setebal 5,3 mm dan bobot 509 gram, jauh lebih ringan dan tipis dari generasi sebelumnya.
- Layar beralih dari IPS ke OLED 12 inci dengan refresh rate 144 Hz dan brightness puncak HDR 1.200 nits.
- Baterai 10.100 mAh diklaim mampu pemutaran video hingga 16 jam atau 10 jam streaming HDR.
- Harga dan ketersediaan global masih belum dikonfirmasi meski tablet ini sudah muncul di situs resmi Huawei.
Spesifikasi Huawei MatePad Air (2026)
- Tahun Rilis: 2026
- Layar: 12 inci OLED, 2.800 x 1.840 piksel, 144 Hz, 1.200 nits (HDR peak)
- Chipset:,
- RAM:,
- Penyimpanan:,
- Baterai: 10.100 mAh
- Kamera Utama: 50 MP
- Kamera Depan: 12 MP
Paket upgrade yang diam-diam mengubah semuanya
Penerus MatePad Air ini memang tidak mengubah formula desain secara drastis. Namun kalau diletakkan berdampingan, selisih 0,6 mm dan 46 gram itu bukan angka kecil. Di atas kertas terdengar sepele. Tapi dalam praktiknya, terutama kalau kamu sering memegang tablet dalam waktu lama, entah buat baca dokumen, menonton video di tempat tidur, atau menggambar pakai stylus, bobot yang turun cukup signifikan itu membuat pengalaman jauh lebih nyaman. Apalagi untuk ukuran layar 12 inci yang biasanya sudah masuk zona kurang praktis kalau bobotnya tidak dijaga ketat.
Satu perubahan besar lain yang tidak langsung tampak dari foto produk: layarnya sudah OLED. Huawei tidak lagi pakai IPS seperti sebelumnya. Ini juga bukan OLED “seadanya”. Refresh rate 144 Hz dan kecerahan puncak HDR 1.200 nits menempatkan tablet ini di jajaran panel yang sangat solid untuk konten. Kalau kamu pakai tablet lebih banyak untuk menonton daripada mengetik, dampak dari peningkatan kontras dan kecerahan ini cukup terasa.
Pengalaman produktivitas dengan pendekatan yang tidak memaksa
Huawei masih memosisikan tablet ini sebagai perangkat fleksibel, bukan pengganti laptop penuh, tapi cukup mumpuni kalau sewaktu-waktu kamu perlu menyelesaikan pekerjaan ringan. Mereka menyediakan keyboard case, walau tidak dibekali touchpad. Ini bukan keputusan yang aneh; beberapa pengguna memang lebih nyaman mengandalkan layar sentuh atau stylus ketimbang touchpad kecil yang setengah hati.
Yang lebih berdampak pada rutinitas kerja adalah kehadiran lapisan PaperMatte. Buat orang yang sering menulis dengan M-Pencil Pro, ini cukup krusial. Sensasi menulis di permukaan yang lebih bertekstur dan pantulan layar yang berkurang drastis berarti mata tidak cepat lelah. Saya pribadi belum mencoba langsung, tapi dari pengalaman saya dengan tablet lain yang pakai teknologi serupa, ini diferensiasi yang langsung terasa begitu dipakai.
Satu kelemahan yang perlu dicatat: meski sudah ada keyboard case, absennya touchpad membuat navigasi jadi sedikit kurang efisien kalau kamu terbiasa dengan mode laptop konvensional. Kalau kamu berharap bisa mengganti Chromebook atau laptop Windows dengan tablet ini sepenuhnya, kamu mungkin akan merasa kurang lengkap.
Hiburan bergerak yang jadi prioritas utama
Dengan total enam speaker dan layar OLED yang reproduksi warna DCI-P3-nya penuh, arah produk ini cukup jelas: konsumsi konten jadi andalan. Klaim ketahanan baterai 16 jam untuk pemutaran video standar dan 10 jam untuk streaming HDR memberi gambaran bahwa kamu tidak perlu sembunyi di dekat colokan listrik saat binge-watching series.
Wi-Fi 7 yang sudah didukung juga patut diperhatikan. Di Indonesia adopsinya memang masih sangat dini, tapi kalau kamu tipikal pengguna yang pakai tablet untuk beberapa tahun ke depan, fitur ini membuat perangkat lebih relevan lebih lama. Tablet bukan perangkat yang sering diganti seperti smartphone. Jadi konektivitas yang lebih tahan zaman cukup penting.
Ketersediaan dan kapan masuk akal untuk dimiliki
Ini bagian yang agak menggantung. Huawei sudah memasang MatePad Air (2026) di situs globalnya, jadi seharusnya tinggal menunggu jadwal peluncuran pasar spesifik. Tapi belum ada tanggal pasti dan belum ada angka harga sama sekali. Buat saya, ini informasi kunci yang menentukan apakah tablet ini jadi rekomendasi kuat atau cuma alternatif oke.
Kita tahu tablet Android di rentang harga menengah ke atas adalah segmen yang penuh jebakan. Banyak yang speknya bagus, tapi eksekusinya setengah hati atau dukungan software-nya tidak panjang. MatePad Air yang sebelumnya tidak buruk, tapi juga tidak terlalu istimewa. Generasi kedua ini punya potensi lebih besar. Pertanyaan besarnya cuma satu: di harga berapa?
Tanpa informasi harga, sulit untuk menyatakan apakah ini layak dibeli atau tidak. Kalau ternyata harganya agresif, saya bisa melihat tablet ini menjadi pilihan menarik buat mahasiswa atau pekerja kreatif yang butuh perangkat serbaguna yang enak dibawa. Tapi kalau terlalu mahal, persaingan di segmen ini sangat ketat dan toleransi untuk kompromi kecil seperti absennya touchpad akan semakin tipis.