Home Teknologi

Geekbench 7 Resmi Meluncur, Bawa Dukungan CUDA dan Perombakan Besar Skor Multi-Core

25 Juli 2026 5 min read

Geekbench 7 resmi meluncur dengan dukungan CUDA untuk GPU Nvidia dan perubahan fundamental pada cara skor multi-core diinterpretasikan, termasuk baseline performa baru yang membuat hasil benchmark antar versi tidak bisa dibandingkan langsung.

Banner Geekbench 7 dengan logo dan informasi peluncuran versi terbaru dari Primate Labs
(Foto: Primate Labs)

Kalau selama ini kamu selalu bolak-balik cek hasil benchmark buat membandingkan performa, ada kabar yang perlu disimak: Primate Labs akhirnya melepas Geekbench 7 ke publik. Versi terbaru ini tidak cuma naik angka di belakang namanya, tapi juga mengubah cara kita seharusnya membaca skor, terutama di sektor multi-core dan GPU. Saya belum sempat menjajal langsung semua fiturnya, tapi dari dokumen resmi dan data awal yang beredar, ada beberapa perubahan fundamental yang cukup menarik buat dibahas.

Konteksnya begini: kalau dulu skor multi-core sering jadi ajang adu jumlah inti prosesor tanpa peduli seberapa realistis beban kerjanya, Geekbench 7 mencoba memangkas kebiasaan itu. Primate Labs memperkenalkan pendekatan baru yang lebih ketat dalam menentukan kapan sebuah workload benar-benar perlu dijalankan secara multi-threaded.

  • Geekbench 7 hanya menjalankan workload dalam mode multi-threaded jika aplikasi aslinya memang bekerja seperti itu, jadi skor multi-core seharusnya lebih mencerminkan performa dunia nyata.
  • AMD Ryzen 7 7700 kini jadi patokan baru skor 2.500 poin, menggantikan Intel Core i7-12700 yang dipakai di Geekbench 6, artinya, skor antar versi tidak bisa dibandingkan langsung.
  • GPU benchmark sekarang mendukung CUDA untuk kartu grafis Nvidia, plus tambahan tes baru seperti ML image upscaling, path tracing, dan fluid simulation.
  • Dataset di berbagai workload diperbesar, termasuk File Compression dan PDF Viewer, supaya lebih sesuai dengan beban kerja modern.
  • Geekbench 7 sudah tersedia untuk Android, iOS, Windows, macOS, dan Linux, dengan Geekbench 7 Pro dapat diskon 20% sampai 6 Agustus.

Kenapa Skor Multi-Core di Geekbench 7 Tidak Bisa Disamakan dengan Versi Sebelumnya

Salah satu perombakan paling besar ada di cara Geekbench 7 menangani multi-core. Kalau di versi sebelumnya hampir semua workload bisa dijalankan dengan banyak thread tanpa banyak pertimbangan, sekarang aturannya lebih selektif. Primate Labs hanya mengizinkan workload berjalan dalam mode multi-threaded jika aplikasi yang diwakilinya memang didesain untuk memanfaatkan banyak inti prosesor secara paralel.

Contohnya, workload HTML5 Browser sekarang dikeluarkan dari suite multi-threaded. Alasannya sederhana: mayoritas browser di dunia nyata masih beroperasi secara single-threaded atau hanya menggunakan thread dalam jumlah terbatas. Menurut keterangan Primate Labs, perubahan ini bertujuan agar skor multi-core yang dihasilkan lebih jujur merepresentasikan performa yang akan dirasakan pengguna, bukan sekadar memberi nilai tinggi ke prosesor yang cuma jago melempar beban ke semua inti tanpa konteks.

Ini langkah yang cukup berani, dan saya rasa masuk akal. Selama ini kita sering melihat prosesor dengan jumlah inti banyak mendapat skor benchmark fantastis, tapi begitu dipakai untuk aplikasi sehari-hari, selisihnya tidak sedramatis angka di layar. Dengan pendekatan baru ini, Geekbench 7 berusaha menutup celah antara angka sintetis dan pengalaman aktual.

Patokan Skor Baru: Ryzen 7 7700 Jadi Acuan 2.500 Poin

Perubahan penting lainnya: Geekbench 7 menetapkan baseline performa yang benar-benar baru. AMD Ryzen 7 7700 kini menjadi prosesor referensi dan dinormalisasi ke angka 2.500 poin, menggantikan Intel Core i7-12700 yang sebelumnya digunakan di Geekbench 6. Konsekuensinya cukup signifikan, kamu tidak bisa lagi membandingkan skor Geekbench 6 dengan Geekbench 7 secara langsung.

Kenaikan atau penurunan skor yang terlihat saat beralih dari versi 6 ke versi 7 tidak otomatis berarti ada peningkatan atau penurunan performa hardware yang setara. Ini murni karena patokannya sudah bergeser. Jadi, kalau nanti ada yang ramai-ramai membandingkan hasil benchmark lama dan baru tanpa menyebutkan konteks ini, kamu sudah tahu bahwa perbandingan itu kurang valid.

Data awal yang dirilis Primate Labs juga memberikan gambaran menarik tentang hierarki prosesor di Geekbench 7. AMD Ryzen AI Max+ 395 dengan 16 inti mencatatkan rata-rata sekitar 2.742 poin untuk single-core dan 27.412 poin untuk multi-core. Intel Core i9-13900KF 24-inti menguntit dengan sekitar 2.734 poin single-core dan 24.439 poin multi-core. Sementara Apple M4 Pro dengan 14 inti berada di kisaran 3.360 poin single-core dan 23.188 poin multi-core.

Qualcomm Snapdragon X2 Elite 18-inti juga tidak ketinggalan, membukukan rata-rata sekitar 3.225 poin single-core dan 22.735 poin multi-core. Yang cukup mengejutkan adalah Apple M5, yang meskipun skor multi-core-nya sekitar 18.722 poin, justru mencatatkan skor single-core tertinggi di antara yang disebutkan: sekitar 3.753 poin. Angka ini menunjukkan betapa berbedanya filosofi desain antar produsen chip, dan Geekbench 7 sepertinya akan membuat perbedaan itu semakin terlihat.

Apa yang Baru di Sektor GPU: CUDA Akhirnya Hadir

Buat kamu yang mengandalkan GPU Benchmark untuk mengukur performa kartu grafis, Geekbench 7 membawa pembaruan yang cukup substansial. Primate Labs menambahkan serangkaian tes baru yang lebih relevan dengan beban kerja modern: ML image upscaling, face tracking, video background blurring, RAW image processing, color grading, path tracing, dan fluid simulation.

Tapi yang paling mencuri perhatian, terutama buat pengguna Nvidia, adalah dukungan CUDA. Sebelumnya, GPU Benchmark hanya mengandalkan OpenCL, Vulkan, dan Metal sebagai compute API. Dengan masuknya CUDA, kartu grafis Nvidia sekarang bisa diuji menggunakan API yang memang dioptimalkan untuk arsitektur mereka.

Data awal dari Primate Labs memperlihatkan betapa besarnya perbedaan yang dihasilkan. GeForce RTX 4070 mencatatkan rata-rata sekitar 236.094 poin menggunakan CUDA, sementara dengan OpenCL hanya sekitar 163.749 poin dan Vulkan sekitar 170.245 poin. Selisihnya bahkan lebih dramatis di RTX 4090: sekitar 444.438 poin dengan CUDA, berbanding 252.318 poin dengan OpenCL.

Ini bukan berarti OpenCL atau Vulkan tiba-tiba jadi jelek. Tapi data ini menegaskan bahwa API yang dioptimalkan secara spesifik untuk arsitektur tertentu bisa membuka potensi performa yang selama ini mungkin tidak terlihat di benchmark versi sebelumnya.

Fitur Tambahan dan Ketersediaan

Geekbench 7 juga menyelipkan beberapa tambahan yang membuat rangkaian tesnya terasa lebih modern. Ada encoding AV1 untuk screen sharing, kompresi audio Opus, serta live caption generation yang memanfaatkan model pengenalan suara Whisper dari OpenAI. Primate Labs juga menyertakan tes Game Physics baru berbasis Jolt Physics engine, plus ekspansi di workload Photo Editor dan Photo Library.

Dari sisi ukuran dataset, beberapa workload seperti File Compression dan PDF Viewer kini menggunakan dataset yang lebih besar. Tujuannya jelas: mencerminkan pola penggunaan perangkat saat ini yang semakin berat. File yang kita kompres semakin besar, dokumen PDF yang kita buka semakin kompleks, benchmark-nya harus mengikuti.

Geekbench 7 sudah tersedia untuk diunduh di Android, iOS, Windows, macOS, dan Linux. Versi gratisnya masih bisa digunakan untuk keperluan personal, sementara Geekbench 7 Pro, yang menawarkan fitur lebih lengkap, sedang dalam masa promo peluncuran dengan potongan harga 20% sampai 6 Agustus.

#Tech#Benchmark#Geekbench 7#Primate Labs#CUDA#GPU#CPU#Software Benchmark
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →