Kalau kamu mengikuti lini kamera sinema Sony, nama FX3 mungkin sudah tidak asing. Kamera itu meluncur tahun 2021 dan langsung jadi favorit para sineas independen berkat bodi ringkas dan output 4K-nya. Sekarang, Sony resmi membawa penerusnya: FX5. Bukan sekadar naik resolusi, kamera ini melompat ke perekaman open-gate 5K60p dengan sensor full-frame yang jauh lebih ganas.
- Sensor full-frame Exmor RS 18,2 MP, perekaman open-gate 5K60p, penerus langsung dari FX3 yang rilis 2021
- Latitude lebih dari 15 stop di mode S-Log3, dengan ISO dasar 800, 4000, dan 12800 yang didukung peredam noise berbasis AI
- Autofokus hybrid 759 titik dengan deteksi AI untuk manusia, hewan, dan burung
- Perekaman audio 4 kanal 96 kHz 32-bit float, dua slot kartu memori SDXC atau CFexpress 2 Type A
- Dua varian: ILME-FX5 dengan XLR handle seharga sekitar Rp86,3 juta, ILME-FX5B tanpa handle sekitar Rp76,9 juta
Sensor dan kemampuan perekaman yang melompat dari 4K ke 5K
Hal pertama yang langsung mencolok dari FX5 adalah sensornya. Sony membekalinya dengan sensor full-frame Exmor RS 18,2 megapiksel yang sanggup merekam video open-gate 5K di 60p. Buat yang belum familier, open-gate artinya sensor merekam seluruh area gambar tanpa crop, jadi kamu punya fleksibilitas maksimal saat reframing di post-production. Ini bukan sekadar upgrade kecil dari FX3; lompatan dari 4K ke 5K membuka ruang gerak yang lebih luas, terutama kalau output akhir kamu tetap 4K.
Di balik kemampuannya itu, ada prosesor gambar BIONZ XR2 yang juga menangani peredam noise berbasis AI. Menurut keterangan Sony, sensor ini bisa menghasilkan latitude lebih dari 15 stop dalam mode S-Log3. Itu angka yang serius untuk kamera di kelas ini. ISO dasarnya bisa dipilih di 800, 4000, atau 12800, dan rentang ISO keseluruhan membentang dari 320 sampai 409.600. Fitur dual-gain shooting juga hadir untuk memperlebar latitude gambar di berbagai kondisi pencahayaan.
Stabilisasi dan autofokus yang mengandalkan AI
Sony tidak main-main dengan sistem stabilisasinya. FX5 dibekali stabilizer in-body 5-axis optik yang bisa bekerja berdampingan dengan Dynamic Active Mode, stabilisasi digital yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Kombinasi ini penting buat kamu yang sering shooting handheld atau bergerak tanpa rig berat.
Urusan fokus, Sony menyematkan sistem hybrid autofokus 759 titik yang menggabungkan deteksi fase dan kontras. Yang menarik, ada AI subject detection yang bisa mengenali manusia, hewan, dan burung secara otomatis. Buat sinematografi dokumenter atau wildlife, fitur ini cukup membantu menjaga subjek tetap tajam tanpa harus terus-menerus mengutak-atik fokus manual.
Kamera ini juga kompatibel dengan lensa E-mount Sony, termasuk lensa anamorphic saat kamu menggunakan mode open-gate. Jadi kalau kamu sudah punya koleksi lensa E-mount, FX5 bisa langsung masuk ke workflow tanpa adapter tambahan.
Penyimpanan, layar, dan viewfinder opsional
Untuk media penyimpanan, FX5 punya dua slot kartu memori yang mendukung SDXC atau CFexpress 2 Type A. Pilihan ini memberi kamu fleksibilitas antara kartu yang lebih terjangkau dan yang lebih cepat. Video bisa disimpan dalam format Sony X-OCN compressed RAW 16-bit, yang menjaga detail gambar tetap utuh untuk proses grading di tahap selanjutnya.
Di bagian belakang, ada layar LCD multi-angle 3,5 inci dengan resolusi 2,76 juta dot. Cukup tajam untuk monitoring saat shooting. Kalau kamu butuh pengalaman yang lebih presisi, Sony menyediakan viewfinder OLED opsional berukuran 0,58 inci dengan resolusi 7,07 juta dot yang bisa dimiringkan hingga 90 derajat. Viewfinder ini bukan aksesori wajib, tapi bisa jadi penyelamat saat kamu shooting di bawah terik matahari.
Audio dan konektivitas ala kamera produksi profesional
Salah satu nilai jual FX5 yang tidak boleh dilewatkan adalah kemampuan audionya. Kamera ini bisa merekam hingga empat kanal audio 96 kHz 32-bit float bersamaan dengan video. Format 32-bit float ini penting karena memberi headroom ekstrem, jadi rekaman tidak gampang clipping atau distort meskipun level input lagi tinggi-tingginya.
Varian ILME-FX5 hadir dengan XLR handle yang dilengkapi Sony Multi-Interface (MI) shoe dan dua jack XLR/TRS untuk mikrofon eksternal. Handle ini memudahkan kamu merekam audio profesional langsung ke kamera tanpa perlu perangkat perekam terpisah. Kalau kamu memilih varian ILME-FX5B tanpa handle, kamu tetap bisa menambahkan solusi audio sendiri lewat port yang tersedia.
Dari sisi konektivitas, FX5 mendukung time code sync dan operasi kamera terintegrasi lewat jaringan, baik kabel maupun nirkabel. Ada port LAN, dua port USB, port HDMI, plus Wi-Fi 802.11ax. Kamera ini juga mendukung livestreaming 4K lewat protokol RTSP, jadi tidak cuma untuk produksi rekam, tapi juga siaran langsung berkualitas tinggi.
Harga dan perkiraan ketersediaan
Sony memperkirakan FX5 akan mulai dikirim pertengahan Agustus nanti. Harganya? Varian ILME-FX5 yang sudah termasuk XLR handle dibanderol sekitar Rp86,3 juta (USD 5.499,99), sementara varian ILME-FX5B tanpa handle sekitar Rp76,9 juta (USD 4.899,99). Di Jepang, kedua varian ini dihargai 819.000 yen dan 739.000 yen.
Dengan banderol segitu, FX5 jelas bukan kamera untuk iseng. Tapi kalau kamu memang serius di produksi film, dokumenter, atau konten komersial kelas atas dan sudah terbiasa dengan ekosistem Sony, kamera ini membawa cukup banyak peningkatan yang masuk akal dari FX3. Saya sendiri belum menjajal langsung, tapi dari spesifikasi yang dirilis, lompatan ke 5K open-gate dan kemampuan audio 32-bit float-nya jadi dua hal yang paling bikin penasaran.