Keheningan Sony soal masa depan cakram PS5 ternyata bukan sebuah ketidaksengajaan. Di tengah gelombang protes dari komunitas penggemar game fisik, perusahaan justru memilih jalur sunyi. Lebih dari sekadar tidak berkomentar, sebuah laporan baru menyebutkan bahwa para staf internal dilarang keras untuk angkat bicara. Strategi ini bukan tanpa risiko, terutama ketika kemarahan konsumen belum juga meredup berminggu-minggu setelah pengumuman kontroversial mereka di awal Juli lalu.
- Penulis God of War, Alanah Pearce, mengklaim Sony melarang stafnya merespons keluhan soal peralihan dari game fisik ke digital.
- Pedoman media sosial yang diterbitkan Sony disebut sebagai yang terketat yang pernah dilihat oleh karyawan studio first-party.
- Pendekatan Sunyi ini dinilai dapat memudarkan protes seiring dominasi data penjualan digital, namun juga membingungkan mitra pemasaran.
- Microsoft di bawah kepemimpinan baru Xbox mengambil langkah sebaliknya dengan lebih aktif merespons kritik di media sosial.
Sony Sengaja Tutup Mulut Soal Game Fisik
Alanah Pearce, yang juga seorang kreator konten dan mantan jurnalis game, mengungkapkan tabir di balik keheningan Sony. Bukan hanya tidak ada strategi komunikasi publik yang baru. Menurutnya, Sony telah mengantisipasi gelombang protes ini dan secara proaktif menginstruksikan seluruh pekerja terkait untuk tidak menanggapi komplain apapun. Ini bukan sekadar imbauan informal.
Karyawan dari tim pengembang internal Sony, termasuk bagian dari Santa Monica Studio, dikatakan menghadapi batasan ketat soal apa yang boleh dan tidak boleh mereka ucapkan. Saat membahas judul God of War yang akan datang, para staf ini ternyata juga terikat aturan serupa. Pearce menyampaikan bahwa beberapa di antara mereka menyebut panduan media sosial kali ini sebagai yang paling ketat yang pernah mereka terima sepanjang karier.
Saya melihat langkah ini sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, mengontrol narasi internal mencegah spekulasi liar dan potensi kesalahan komunikasi dari sumber tidak resmi. Namun di sisi lain, ini menimbulkan pertanyaan soal transparansi. Apakah melarang karyawan berbicara sama sekali adalah bentuk perlindungan atau justru menciptakan kesan arogan dan tertutup? Yang jelas, mitra pemasaran PlayStation dilaporkan mulai khawatir karena kampanye berbayar mereka menjadi kurang efektif ketika dialog publik didominasi oleh kritik yang tak terjawab.
Akankah Protes Pemain Padam dengan Sendirinya?
Jika prediksi Pearce benar, hiruk-pikuk ini pada akhirnya akan layu dengan sendirinya. Dan di situlah letak perhitungan bisnisnya. Selama mayoritas pembeli terus memilih unduhan digital, basis penggemar game fisik akan semakin terpinggirkan dan dipaksa beradaptasi dengan layar PlayStation Store. Data dari Circana mendukung teori ini: meskipun ada reaksi keras, penjualan game fisik memang terus merosot.
Sikap Sony yang enggan bertempur di medan sosial sebenarnya bukan fenomena baru. Saya justru melihat kontras yang tajam dengan apa yang dilakukan Microsoft akhir-akhir ini. Di bawah arahan CEO Xbox yang baru, Asha Sharma, perusahaan kubu hijau itu jauh lebih proaktif. Mereka memang sering membuat keputusan yang bisa dibilang aneh, tapi setidaknya mereka merespons kritik keras soal kurangnya game eksklusif, bahkan ikut mengomentari masalah peretasan akun yang selama ini cenderung diabaikan oleh Sony.
Tapi, menjadi terlalu responsif juga ada sisi buruknya. Kerap kali respons yang terburu-buru dari perusahaan malah menciptakan pesan yang campur aduk dan membingungkan. Agaknya, PlayStation berjudi bahwa langkah mereka untuk memprioritaskan game digital sudah final dan tidak bisa dinegosiasikan. Jika memang begitu adanya, setiap kata yang mereka lontarkan hanya akan jadi bensin yang terus menyalakan api protes. Diam mungkin emas, atau dalam kasus ini, berharap segalanya segera terlupakan.