Percakapan soal matinya media fisik di dunia game kembali memanas setelah Sony dikabarkan akan menghentikan produksi cakram pada 2028. Tapi menariknya, kabar yang bikin geger banyak gamer ini justru ditanggapi dingin oleh salah satu raksasa ritel game. CEO GameStop, Ryan Cohen, tidak melihat ini sebagai ancaman sama sekali.Inti Pembahasannya:
- GameStop sudah lama tidak menggantungkan nasib pada penjualan software atau kepingan game baru.
- Pernyataan tegas CEO GameStop: keputusan Sony itu "totally, totally irrelevant" buat bisnis mereka saat ini.
- Uang GameStop sekarang lebih banyak berputar dari kartu Pokémon, booster pack, dan barang koleksi dibanding game itu sendiri.
Transformasi Bisnis GameStop yang Tak Terduga
Dalam wawancara dengan Bloomberg, Ryan Cohen secara gamblang menjelaskan kenapa langkah Sony itu tidak lagi jadi masalah besar. "Sama sekali tidak penting. Itu sepenuhnya tidak relevan," ujarnya, merujuk pada penghentian produksi cakram PlayStation.
Cohen lalu membeberkan fakta yang mungkin mengejutkan banyak gamer. Dulu, software atau game adalah nadi utama bisnis mereka. Sekarang? Porsinya sudah menyusut drastis. "Software, itu penting di masa lalu. Software hari ini berkontribusi kurang dari 12% dari bisnis kami, sementara barang koleksi sudah lebih dari setengah bisnis. Jadi, itu benar-benar tidak relevan," tegas Cohen.
Pernyataan ini bukan omong kosong. Laporan keuangan GameStop untuk kuartal pertama 2026 membuktikan pergeseran itu sudah nyata. Identitas toko yang dulu identik dengan jajaran kaset dan disk game baru, kini perlahan memudar.
Sony dan Masa Depan Tanpa Disk Fisik
Keputusan Sony untuk menyetop produksi cakram banyak dilihat sebagai pukulan telak bagi pelestarian media fisik. Tapi para analis industri melihatnya sebagai langkah alami. Penjualan digital terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Sementara itu, edisi fisik datang dengan sederet kerumitan buat penerbit: biaya produksi, ongkos kirim, hingga logistik retail yang tidak murah.
Pergeseran ini secara efektif menempatkan platform digital seperti PlayStation Store dan Xbox Store sebagai etalase utama. Imbasnya, tradisi berburu game fisik murah di toko-toko independen bisa jadi cerita lama yang sulit terulang.
Dari Kaset Game ke Kartu Pokémon
Lalu, dari mana GameStop meraup uangnya sekarang? Jawabannya ada di kartu Pokémon, booster pack, dan reretannya. Perusahaan ini sekarang lebih mirip surga bagi pemburu barang koleksi. Bukan cuma kartu, mereka juga menghidupkan pasar jual-beli konsol dan disk game retro yang sudah langka. Mulai dari N64, PS2, PS3, Xbox 360, GameCube, sampai Sega Dreamcast.
Cohen juga menyoroti performa keuangan mereka yang justru moncer. Di kuartal pertama 2026, pendapatan operasional perusahaan mencapai sekitar Rp2,2 triliun (USD 143 juta). Cohen menyebutnya sebagai "pendapatan operasional tertinggi dalam sejarah perusahaan."
Strategi Baru di Tengah Pusaran Digital
Alih-alih meratapi matinya disk game baru, GameStop justru beradaptasi. Mereka belum lama ini menggandeng Uber Eats untuk layanan pengiriman langsung dari toko. Game, konsol, dan barang koleksi bisa diantar ke depan pintu tanpa pembeli perlu keluar rumah.
Banyak pihak melihat penurunan media fisik sebagai kerugian besar bagi konsumen. Tapi GameStop memilih melihatnya dari sisi lain: peluang untuk fokus pada area dengan margin keuntungan lebih tinggi. Bagi perusahaan ini, semuanya kembali ke kalkulasi angka. Dan berdasarkan strategi mereka saat ini, kepingan game fisik bukan lagi kekhawatiran utama. Bukan karena disk itu tidak laku, tapi karena pundi-pundi mereka sekarang berasal dari sumber yang sama sekali berbeda.