Keputusan Activision membawa Call of Duty: Black Ops ke PlayStation 5 seharusnya jadi kabar gembira buat penggemar nostalgia. Gim legendaris ini bahkan sempat memuncaki tangga penjualan PlayStation Store. Tapi sayangnya, perayaan itu terusik oleh kenyataan pahit: server baru tidak otomatis berarti pengalaman bersih dari para cheater. Activision terpaksa menonaktifkan sejumlah playlist multiplayer setelah laporan eksploitasi hack yang merusak permainan mulai membanjiri media sosial.
- Port PS5 Call of Duty: Black Ops dipenuhi cheater yang mengeksploitasi lobi modded untuk naik level instan, memaksa Activision menonaktifkan playlist multiplayer.
- Harga jualnya tidak murah, yaitu Rp649 ribuan per gim, dengan DLC dijual terpisah, namun performanya dibatasi di resolusi 1080p tanpa opsi 120Hz.
- Selain cheat, pemain melaporkan masalah teknis seperti input lag, pencarian pertandingan lambat, dan koneksi putus acak.
- Praktik curang ini mirip seperti yang dulu merusak versi backward-compatible PS3, memunculkan kekecewaan karena Treyarch gagal mencegah masalah lama terulang.
Bagaimana Cheater Merusak Black Ops PS5?
Cara kerjanya cukup mengganggu. Di mode seperti Domination, individu memanfaatkan lobi yang sudah dimodifikasi. Mereka berulang kali meledakkan diri menggunakan granat dan memutuskan koneksi untuk menghasilkan XP secara eksplosif, mencapai level 50 dalam waktu singkat. Pemain lain di pertandingan yang sama hanya bisa menyaksikan karakter terus-menerus muncul dan menghilang, benar-benar merusak jalannya permainan.
Risikonya tidak berhenti di situ. Menyerang pemain yang sudah mencapai level maksimal lewat cara ilegal ini bisa membuat akunmu kehilangan level. Jika sebuah rank sudah memiliki tanda minus di depannya, menandakan posisi di bawah level 1, pemain yang jadi korban berpotensi tidak bisa masuk ke pertandingan sama sekali. Ini bukan sekadar gangguan kecil; ini krisis yang membuat struktur dasar multiplayer jadi tidak berfungsi.
Yang bikin gregetan, skenario ini seperti rekaman rusak dari masa lalu. Versi PS3 yang dimainkan lewat backward compatibility dulu sudah akrab dengan menu mod dan aimbot, khususnya di Black Ops 2. Dengan hadirnya server baru dan banderol harga penuh, wajar jika fans mengharapkan Treyarch sudah punya benteng pertahanan yang lebih kuat. Nyatanya tidak.
Harga Penuh, Masalah Penuh
Selain soal cheat, port ini menyisakan kekecewaan teknis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Proses matchmaking sering terasa lambat, dan begitu aksi dimulai, input lag langsung menyambut, momen krusial di mana refleks sepersekian detik sangat berarti berubah jadi pengalaman yang canggung. Belum lagi laporan disconnect acak di mode multiplayer yang menambah daftar frustrasi.
Semua itu terjadi di gim yang dijual dengan harga sekitar Rp649 ribuan per judul saat tidak sedang diskon. DLC? Itu transaksi terpisah. Untuk harga segitu, banyak yang berpendapat upaya pengembang terasa kurang. Gim ini masih mentok di resolusi 1080p dan tidak punya opsi 120Hz yang bisa membuat pergerakan dan bidikan terasa lebih responsif. Di era PS5 yang dibanggakan dengan performa tinggi, detail ini terasa seperti langkah mundur yang seharusnya bisa dihindari dengan sedikit usaha lebih.
Respons Activision yang Setengah Hati
Sejauh ini, Activision belum mengeluarkan pernyataan resmi yang gamblang soal skala kerusakan ini. Tanggapan mereka baru muncul di media sosial, di mana pihak pengembang menyebut telah menonaktifkan "playlist tertentu" sambil menyelidiki masalahnya. Tidak ada kejelasan bagaimana mereka akan membalikkan XP yang diperoleh secara ilegal atau mengembalikan level pemain yang jadi korban. Salah satu kreator konten, Synth Potato, melontarkan saran paling sederhana dan paling didambakan: reset level para cheater itu ke nol.
Sampai sekarang, tidak ada kejelasan soal mekanisme itu. Ketidakpastian ini meninggalkan pemain di posisi yang tidak nyaman. Membeli gim di platform baru dengan harga penuh, namun harus berhadapan dengan momok lama yang seolah tidak dipelajari dari sejarah, adalah pil pahit yang sulit ditelan oleh komunitas.
Pada akhirnya, ini bukan tentang apakah gimnya masih seru, tapi tentang standar yang tidak terpenuhi. Untuk pemain yang menginginkan pengalaman nostalgia mulus, Call of Duty: Black Ops di PS5 saat ini adalah sebuah pertaruhan. Kamu membayar mahal, tapi bisa jadi hanya untuk menyaksikan ulang mimpi buruk yang sama seperti satu dekade lalu, hanya kali ini dengan grafis yang tidak jauh lebih baik. Jika kamu mengincar pengalaman multiplayer yang bersih dan adil, lebih baik tahan dulu keinginan itu sampai Activision benar-benar beres berbenah.