Nasib port PS5 dari game lawas memang seringkali bikin geleng-geleng. Di satu sisi, ini kesempatan nostalgia yang sah. Di sisi lain, ekspektasi kita sebagai pemain modern seringkali berbenturan dengan realita teknis game yang usianya sudah lebih dari satu dekade. Nah, yang terjadi pada Call of Duty: Black Ops di PS5 ini cukup unik. Masalahnya bukan cuma soal grafis atau mekanik jadul, tapi sesuatu yang jauh lebih fundamental: keamanan server multiplayer yang bobol, sampai-sampai PlayStation Store menyetujui permintaan refund dari sejumlah pembeli.
- Pemain Call of Duty: Black Ops versi PS5 melaporkan pengalaman multiplayer yang rusak akibat aksi peretas (hacker).
- Peretas menggunakan server yang dimodifikasi untuk mencuri XP dan bahkan menurunkan level pemain lain ke angka negatif.
- Sejumlah pembeli berhasil mendapatkan refund dari PlayStation Store setelah mengeluhkan masalah ini, meskipun kebijakan Sony terkenal ketat.
- Selain peretasan, game ini juga dikritik karena harganya yang tinggi, masalah saat bermain dengan teman, dan input lag.
- Keberhasilan refund tidak merata; banyak pemain lain yang permintaannya ditolak oleh customer support PlayStation.
Multiplayer yang Jadi Ladang Curang
Keluhan utama yang membuat situasi ini meledak bukanlah bug biasa. Ini soal peretas yang secara aktif merusak sesi permainan. Seorang pengguna Reddit bernama Pristine-Return-671, yang berhasil mendapatkan refund, menggambarkan pengalamannya: sangat sulit menikmati mode multiplayer karena para pemain curang.
Modusnya cukup licik. Para peretas mengeksploitasi server yang sudah dimodifikasi untuk menambah XP mereka sendiri secara ilegal. Sementara itu, pemain yang tidak bersalah justru jadi korban. Level mereka tiba-tiba saja anjlok ke angka negatif. Bayangkan, sudah susah-susah naik level, eh malah minus.
Bahkan bagi mereka yang beruntung tidak kehilangan level, sesi permainan tetap saja kacau. Peretas yang keluar-masuk sesi secara paksa membuat pertandingan terputus-putus dan tidak nyaman dimainkan. Activision memang sempat merespons dengan menonaktifkan sementara sejumlah playlist untuk memperbarui server. Tapi, sejarah sepertinya berulang. Ini masalah yang sama persis yang dulu menghantui versi PS3 dari game ini. Jadi, wajar kalau muncul pertanyaan besar soal seberapa serius keamanan port PS5 ini ditangani.
Sulitnya Bernostalgia Tanpa Kendala Teknis
Masalah peretasan ini sebenarnya hanyalah puncak gunung es. Di luar itu, pengalaman multiplayer Black Ops di PS5 digambarkan sebagai "berbatu" oleh banyak pemain. Mengajak teman untuk bermain bersama saja bisa jadi perjuangan tersendiri. Putus koneksi (disconnect) dari sesi permainan juga dilaporkan terjadi secara rutin.
Dan saat akhirnya aksi dimulai, masalah lain muncul: input lag. Keterlambatan respons antara tombol yang kita pencet dengan gerakan di layar jelas sangat mengganggu, apalagi di game tembak-menembak cepat seperti Call of Duty. Timing adalah segalanya. Semua frustrasi kumulatif inilah yang mendorong Pristine-Return-671 dan beberapa pemain lain untuk mengajukan refund ke PlayStation Store.
Kebijakan Refund PlayStation Store yang Ketat
Tidak semua pemain bernasib sama. Meskipun ada kisah sukses, banyak pembeli lain yang gagal meyakinkan customer support bahwa game ini sudah benar-benar "rusak" dan tidak layak dimainkan. Dibandingkan dengan Steam, kebijakan PlayStation Store soal pengembalian dana memang jauh lebih kaku.
Aturan mainnya jelas: kamu punya waktu 14 hari untuk mengajukan tiket refund. Tapi, begitu game sudah diunduh atau dimainkan, hak refund-mu otomatis gugur. Itu sudah jadi pengetahuan umum di kalangan pemain PlayStation. Nah, keberhasilan pemain Black Ops ini jadi semacam anomali yang menarik. Kuncinya, menurut pengguna Reddit lain bernama slim-davies, ada pada kegigihan. Ia menyarankan untuk terus-menerus menghubungi agen customer service sampai permintaan disetujui.
Faktor keberuntungan memang berperan. Namun, intinya, kamu harus bisa meyakinkan Sony bahwa produk yang kamu beli punya cacat fundamental yang membuatnya tidak bisa dimainkan sama sekali. Ini bukan pertama kalinya. Game-game PS5 lain yang sempat bermasalah parah saat rilis, seperti Crimson Desert dan Starfield, juga punya kisah sukses serupa dari segelintir pembeli yang gigih. Situasi ini juga kembali memicu desakan agar Sony bersikap lebih fleksibel dan merevisi kebijakan refund-nya. Apalagi, game fisik seringkali lebih mudah dikembalikan ke toko ritel, meskipun sudah dimainkan. Namun, dengan langkah Sony yang mulai menjauh dari cakram fisik di awal 2028 nanti, opsi itu juga akan semakin langka.
Kasus Call of Duty: Black Ops ini jadi pengingat yang cukup pahit. Membeli game digital bukan cuma soal kenyamanan instan, tapi juga soal mempercayakan uang kita pada ekosistem yang belum tentu berpihak saat produk yang kita terima tidak beres. Untuk sekarang, pemilik PS5 yang ingin bernostalgia dengan game lawas mungkin perlu bersabar, atau setidaknya, menunggu sampai server benar-benar steril dari peretas. Kalau tidak, risikonya jelas: buang-buang uang dan waktu untuk sesuatu yang pada akhirnya cuma bikin frustrasi.