Saya selalu skeptis kalau brand laptop bilang punya 'laptop gaming desktop-replacement'. Masalahnya, begitu prosesor paling gahar dimasukkan ke bodi 18 inci, bobotnya langsung tidak masuk akal untuk sekadar dipindahkan dari meja ke kasur. Tapi ASUS rupanya tidak peduli dengan kekhawatiran saya. Setelah sebelumnya merilis ROG Strix Scar 18 2026 dengan prosesor Intel Core Ultra 9 290HX Plus dan adaptor daya 450 W (seharga sekitar Rp69,8 jutaan), sekarang mereka membawa opsi sedikit lebih 'sipil' lewat ROG Strix G18 2026. Otaknya sama kencang, tapi pilihan layar dan harganya lebih beragam.
- Menggunakan prosesor 24-core Intel Core Ultra 9 290HX Plus yang sama dengan Scar 18.
- Opsi layar Mini LED 1600p 240 Hz dengan 2000 zona peredupan, kecerahan puncak hingga 1200 nits.
- Varian RTX 5070 Ti ke atas sudah dibekali dual port Thunderbolt 5, bukan Thunderbolt 4.
- Harga termurah ada di kisaran Rp50,3 jutaan di Kanada untuk konfigurasi RTX 5060.
Layar Mini LED dan performa prosesor yang hanya naik sedikit
Saya rasa tidak banyak yang akan protes dengan kualitas layar IPS standar ROG Strix G series. Tapi tahun ini ASUS menawarkan kejutan berupa panel Mini LED untuk konfigurasi yang lebih tinggi. Layar ini secara teknis masih sama-sama beresolusi 1600p dengan refresh rate 240 Hz seperti versi non-Mini LED. Bedanya, ia punya sekitar 2.000 zona peredupan lokal, yang artinya kontras jauh lebih dalam. Kecerahan puncaknya bahkan bisa menembus 1.200 nits. Buat yang suka main game di ruangan terang atau nonton film HDR, ini nilai jual yang cukup masuk akal.
Satu hal yang agak mengejutkan: ASUS sekarang mengizinkan panel layar Strix G18 menyentuh 300 Hz saat mode Ultimate GPU diaktifkan. Tahun lalu mentok di 240 Hz. Jadi meskipun resolusinya tidak naik, ada sedikit peningkatan di fluiditas visual untuk gamer kompetitif yang butuh frame rate setinggi mungkin.
Kalau bicara dapur pacunya, jujur saja saya belum bisa berharap banyak dari lompatan performa CPU. Berdasarkan pengujian yang sudah ada, model 2026 ini hanya mencetak skor sedikit lebih tinggi dibanding versi 2025. Tapi ya, nama besar Core Ultra 9 290HX Plus dengan 24 core mungkin masih jadi alasan kuat untuk upgrade kalau Anda datang dari laptop gaming rilisan tiga atau empat tahun lalu.
Desain yang dipermak tipis, tapi bobot tetap tidak bersahabat
ASUS mengklaim sudah merapikan desain bodi Strix G18 2026 lewat sentuhan 'chamfered edges' atau tepian yang dipotong miring. Terlihat lebih tegas secara visual. Namun jujur saja, laptop ini tetap benda yang besar dan berat. Bobotnya masih di atas 3 kg, tepatnya 3,2 kg dengan dimensi ketebalan antara 23,5 mm sampai 32 mm. Ini murni laptop yang akan lebih banyak diam di meja.
Satu yang saya syukuri, ASUS tidak menghilangkan numpad terintegrasi dan trackpad mekanikal yang sudah jadi andalan seri ini. Keyboard per-key RGB juga masih ada. Buat saya pribadi, ini penting karena banyak brand mulai mengorbankan numpad di laptop 18 inci demi estetika yang lebih minimalis. Dan kapasitas baterainya tidak berubah: tetap 90 Wh. Jangan harap bisa kerja tanpa charger lebih dari setengah hari.
Pilihan GPU, port, dan perbandingan harga
Ini bagian paling menarik. ASUS membagi lini Strix G18 2026 berdasarkan dua jalur konektivitas. Varian paling murah hadir dengan GPU laptop GeForce RTX 5060, dan hanya dibekali satu port Thunderbolt 4. Masuk akal untuk menghemat biaya. Begitu Anda naik ke konfigurasi GPU yang lebih serius, minimal RTX 5070 Ti, port yang tersedia langsung menjadi dual Thunderbolt 5. Prosesornya tetap sama: Core Ultra 9 290HX Plus.
Soal harga, saya langsung konversi ke Rupiah supaya lebih kebayang. Di Kanada, harga mulai dari CAD 3.099 atau sekitar Rp36,4 jutaan. Di Eropa, mulai dari €2.699 atau sekitar Rp46,4 jutaan. Untuk varian RTX 5070 Ti, harganya melompat ke sekitar Rp51,7 jutaan di Kanada (CAD 4.399), €3.099 atau sekitar Rp53,3 jutaan di Eurozone, HKD 27.998 (sekitar Rp57,8 jutaan) di Hong Kong, £2.899 (sekitar Rp56,1 jutaan) di Inggris, dan USD 3.299 (sekitar Rp53,6 jutaan) di Amerika Serikat.
Buat yang mengincar performa tanpa kompromi, ASUS juga menyediakan model dengan GPU GeForce RTX 5080 dan layar Mini LED. Harganya lebih dari 25% lebih mahal ketimbang versi RTX 5070 Ti. Di Inggris, saya melihat varian dengan RAM 32 GB dan SSD 2 TB dibanderol £3.699 (sekitar Rp71,5 jutaan).
Kalau ditanya varian mana yang paling worth it untuk pasar Indonesia yang selalu peduli harga, saya pribadi akan mengarahkan ke konfigurasi RTX 5070 Ti dengan dual Thunderbolt 5. Anda dapat performa GPU yang relevan untuk 2-3 tahun ke depan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam seperti membeli versi RTX 5080. Tapi ingat, laptop ini belum tentu masuk Indonesia dengan harga yang sama persis, apalagi kalau distributornya memutuskan untuk membundel dengan Mini LED sebagai standar. Silakan cek website resmi ASUS untuk detail lebih lanjut dan ketersediaan di wilayah Anda.