Home Teknologi

Assassin's Creed Black Flag Resynced Sukses, Ubisoft Malah PHK 51 Karyawan Barcelona

13 Juli 2026 5 min read

Setelah proyek Assassin's Creed Black Flag Resynced sukses, Ubisoft justru mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 51 staf di Barcelona. Tim kini melakukan mogok kerja sebagai bentuk protes atas ketidakpastian proyek dan budaya manajemen yang memburuk.

Logo Ubisoft di depan kantor mereka, merepresentasikan gelombang PHK yang kembali terjadi di studio Barcelona meski proyek terbaru sukses.
(Foto: Ubisoft)

Kesuksesan sebuah game biasanya identik dengan bonus, perayaan, atau setidaknya rasa aman untuk tim yang mengerjakannya. Tapi di Barcelona, skenarionya berjalan terbalik. Tim di balik Assassin's Creed: Black Flag Resynced justru menghadapi kenyataan pahit: 51 orang kehilangan pekerjaan setelah proyek selesai. Ini bukan soal performa game yang buruk, melainkan soal ketiadaan proyek lanjutan yang sudah ditugaskan ke studio mereka.

Krisis di balik layar yang terus berulang

Industri video game sedang tidak baik-baik saja sejak 2022. Puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan dalam salah satu gelombang PHK terbesar yang pernah tercatat. Kalau dirunut, penyebabnya berlapis: koreksi pasca-pandemi, biaya pengembangan AAA yang semakin membengkak, sampai pergeseran fokus investor dari pertumbuhan ke profitabilitas. Ubisoft Barcelona masuk ke dalam daftar panjang studio yang terkena dampaknya.

Yang membuat situasi ini terasa janggal, menurut laporan Insider Gaming, adalah cara Ubisoft mengelola alur kerja internal. Biasanya, tim sudah menerima proyek baru satu tahun sebelum proyek yang sedang dikerjakan selesai. Tapi tim Barcelona tidak mendapat penugasan semacam itu. Kekhawatiran sudah muncul sejak musim panas 2025, namun tidak ada kejelasan yang datang.

Mogok kerja dan akar masalah yang lebih dalam

Staf yang terdampak tidak tinggal diam. Mereka memulai aksi mogok kerja pada 30 Juni yang direncanakan berlangsung hingga 16 Juli. Tuntutannya bukan cuma soal PHK. Keluhan yang muncul jauh lebih struktural: perlakuan yang dianggap merendahkan secara konsisten, hilangnya talenta-talenta kunci, pemutusan hubungan kerja paksa akibat terkikisnya hak-hak pekerja, dan budaya manajemen yang semakin top-down. Suara karyawan, menurut mereka, semakin tidak punya tempat dalam keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka sendiri.

Ini bukan kasus terisolasi. Di Xbox saja, 1.600 posisi sudah dihapus, dan 1.600 lainnya direncanakan menyusul hingga 2027. Polanya mirip: restrukturisasi, efisiensi, dan konsolidasi yang ujung-ujungnya adalah pengurangan jumlah orang.

Apa artinya buat pemain

Buat saya sebagai konsumen, situasi ini menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman: apakah siklus pengembangan game modern sudah tidak lagi berkelanjutan? Kita sering membahas kualitas game dari sisi frame rate, bug, atau konten endgame, tapi jarang melihat bahwa di balik semua itu ada orang-orang yang bekerja dalam ketidakpastian karir yang kronis.

Black Flag Resynced mungkin berhasil secara komersial, tapi fakta bahwa timnya langsung dipangkas setelah rilis menunjukkan betapa rapuhnya struktur kerja di balik game-game besar. Kalau tren ini berlanjut, dampaknya bisa lebih dari sekadar statistik PHK: talenta senior akan keluar dari industri, proses pengembangan akan semakin terburu-buru, dan game yang sampai ke tangan kita mungkin kehilangan sentuhan manusiawi yang membuatnya terasa utuh.

Untuk tim Ubisoft Barcelona yang sedang mogok, dua minggu ke depan akan menentukan apakah suara mereka didengar atau justru menjadi catatan kecil di tengah restrukturisasi yang lebih besar.

#Video Game#Ubisoft#Assassin's Creed Black Flag Resynced#PHK Industri Game#Mogok Kerja#Pengembangan Game#Berita Game
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →