Home Teknologi

Apple Selamat dari Harga iPhone Lebih Mahal Berkat Kesepakatan dengan Intel

12 Juli 2026 5 min read

Apple berhasil menghindari tarif 100% yang bisa membuat harga iPhone makin mahal, tapi ada syaratnya. CEO Tim Cook harus merelokasi sebagian produksi chip ke pabrik Intel di AS. Begini cerita di balik negosiasinya.

Ilustrasi integrasi perangkat Apple Mac dan iPhone dengan chip yang diproduksi Intel
(Foto: notebookcheck.net)

Di balik harga iPhone yang sudah tinggi, ternyata ada manuver yang membuatnya tidak melonjak lebih gila lagi. Kesepakatan manufaktur chip antara Apple dan Intel yang diumumkan bulan Juni lalu bukan sekadar kolaborasi bisnis biasa. Ini adalah hasil negosiasi di bawah tekanan politik yang cukup intens dari pemerintahan Trump. Tanpa kesepakatan ini, iPhone dan Mac terbaru bisa saja dijual dengan harga yang membuat kamu meringis lebih dalam.

  • Apple dan Intel menandatangani kesepakatan produksi chip setelah CEO Tim Cook meminta pengecualian tarif semikonduktor dari pemerintahan Trump.
  • Pemerintah AS mengancam akan memberlakukan tarif impor 100% pada prosesor yang digunakan Apple jika permintaan tersebut tidak dikabulkan.
  • Intel akan memproduksi chip entry-level Apple menggunakan proses 18A-P, dengan volume pengiriman hingga 20 juta unit per tahun.
  • TSMC tetap menjadi pemasok utama, menguasai lebih dari 90% pasokan chip Apple, termasuk untuk lini iPhone dan Mac Pro flagship.
  • Ada indikasi chip A21 untuk iPhone di tahun 2028 bisa beralih ke proses 14A Intel, meskipun masih sebatas spekulasi industri.

Ancaman Tarif 100% Jadi Ujung Tombak Negosiasi

Menurut sumber dekat pemerintahan Trump, permintaan pengecualian tarif semikonduktor yang diajukan Tim Cook tidak datang tanpa syarat. Pemerintah AS saat itu siap memberlakukan tarif impor 100% pada chip yang digunakan di iPhone dan Mac. Angkanya tidak main-main. Kalau itu benar terjadi, harga jual perangkat Apple bisa melonjak drastis dan itu jelas akan memukul permintaan pasar.

Pengecualian akhirnya diberikan, tapi dengan satu komitmen: Apple harus merelokasi sebagian produksi chip kustomnya ke pabrik Intel di AS. Kesepakatan ini dibuat di bawah tekanan yang cukup jelas. Apple menghindari tarif, sementara pemerintah AS dan Intel mendapatkan komitmen produksi untuk proyek yang mereka danai besar-besaran.

Intel Dapat Proyek, Tapi Bukan Pengganti TSMC

Pemerintah AS menjadi pemegang saham besar Intel setelah menyuntikkan investasi sebesar 9 miliar dolar AS pada Agustus tahun lalu. Sejak saat itu, mereka aktif mencari cara untuk menyalurkan bisnis ke perusahaan tersebut, termasuk dengan membujuk berbagai perusahaan teknologi untuk menjalin kesepakatan manufaktur atau akuisisi. Dalam kasus Apple, bujukan itu rupanya dibarengi dengan ancaman yang cukup efektif.

Saat ini, laporan menunjukkan bahwa Intel akan menangani chip entry-level Apple menggunakan proses 18A-P. Volume produksinya mencapai 20 juta unit per tahun. Angka itu cukup berarti bagi Intel dan investasi pemerintah AS di sana. Tapi kalau kamu pikir ini akan menggoyang dominasi TSMC, jawabannya jelas: tidak. TSMC masih diperkirakan akan memegang lebih dari 90% pasokan chip Apple. Chip flagship untuk iPhone dan Mac Pro hampir pasti tetap berada di node paling mutakhir milik TSMC untuk saat ini.

Yang menarik adalah spekulasi bahwa chip Apple A21 untuk iPhone di tahun 2028 bisa bergeser ke proses 14A Intel. Kalau itu terealisasi, baru bisa dibilang komitmen Apple terhadap foundry Intel naik level. Tapi untuk sekarang, posisi Intel lebih seperti pemasok lapis kedua untuk prosesor yang lebih terjangkau. Langkah ini lebih terlihat sebagai upaya menenangkan pemerintahan ketimbang strategi jangka panjang Apple untuk meninggalkan TSMC.

Ketersediaan dan peluncuran

Kesepakatan ini sudah diumumkan ke publik pada bulan Juni lalu. Produksi chip entry-level di pabrik Intel diperkirakan akan mulai berjalan dalam waktu dekat, meskipun belum ada tanggal pasti kapan perangkat pertama dengan chip tersebut akan meluncur. Dampaknya ke harga produk Apple kemungkinan baru terasa di model-model yang rilis tahun depan atau setelahnya. Yang lebih menarik untuk dicermati adalah apakah struktu biaya produksi yang sedikit lebih murah di AS akan diterjemahkan jadi harga jual yang lebih rendah, atau hanya menjadi margin tambahan bagi Apple.

Konteks ini juga penting buat kamu yang ada di Indonesia. Harga iPhone di sini sudah lebih tinggi dibanding harga global karena pajak impor dan faktor distribusi. Kalau tarif 100% di AS benar-benar terjadi, efek berantainya bisa membuat harga di pasar Indonesia ikut meroket. Untungnya, untuk saat ini skenario itu berhasil dihindari.

#Chipset#Apple#Intel#TSMC#iPhone#Tarif#Manufaktur#AS
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →