Saya masih ingat bagaimana hebohnya Snapdragon X Elite pertama kali diperkenalkan. Janjinya besar: performa setara Apple Silicon, baterai super awet, Windows on ARM yang akhirnya serius. Tapi kenyataannya, debut Snapdragon X1 terasa setengah matang, performa mentahnya oke, namun saat harus menjalankan aplikasi x86 lewat emulasi, semuanya berantakan.
Generasi berikutnya, Snapdragon X2, hadir sejak musim gugur 2026. Sejumlah laptop sudah mulai dipasarkan. Dan yang menarik, peningkatan di Snapdragon X2 ternyata jauh lebih penting dari sekadar refresh biasa. Yang paling mencolok adalah lompatan di CPU multi-threaded dan, yang lebih kritis, perbaikan besar di retensi performa saat harus mengeksekusi aplikasi non-ARM.
- Snapdragon X2 Elite X2E-88-100 dan X2E-94-100 unggul hingga 80% atas Core Ultra X7 358H dalam beban multi-threaded.
- Retensi performa emulasi aplikasi x86 melonjak drastis, kini hanya selisih tipis, bukan lagi seperempat kecepatan asli.
- Performa per watt juga signifikan, dengan konsumsi daya yang mirip laptop Intel namun punya kecepatan lebih tinggi.
- Integrasi GPU Adreno X2-90 masih tertinggal dari Arc B390 Intel, menjadikannya kelemahan yang patut dicermati.
Keunggulan Multi-core yang Susah Ditandingi
Bicara angka, Snapdragon X2 Elite Extreme X2E-94-100 bisa 80 persen lebih cepat dari Core Ultra X7 358H di beban kerja multi-threaded. Bahkan varian X2E-88-100 yang lebih rendah pun mampu unggul 50 persen. Ini lompatan yang lumayan kasar, biasanya peningkatan antar-generasi CPU laptop hanya belasan atau dua puluhan persen.
Buat saya pribadi, ini baru terasa manfaatnya kalau kamu sering render video pendek, kompilasi kode, atau membuka puluhan tab browser sekaligus dengan VM jalan di belakang. Di skenario itu, laptop Snapdragon X2 akan terasa jauh lebih "ringan" dibanding laptop Intel sekelasnya.
Tidak Perlu Takut Lagi soal Emulasi Aplikasi
Salah satu titik sakit paling parah di Snapdragon X1 adalah emulasi. Begitu aplikasi tidak punya versi ARM native, performanya jeblok lebih dari setengah. Saya sendiri pernah melihat ulasan di mana Snapdragon X Elite tahun lalu performanya mirip Core i5 generasi sebelumnya saat menjalankan aplikasi Windows biasa yang belum ARM-native.
Nah, di X2 situasinya berubah. Snapdragon X2E-94-100 yang diemulasi sekarang bisa perform setara Core Ultra X7. Modalnya performa mentah yang tinggi membuat penalti emulasi terasa kecil. Seandainya kamu pakai Photoshop, Visual Studio, atau aplikasi enterprise yang belum porting ke ARM, kamu tidak akan "dihukum" dengan pengalaman selambat laptop murah.
Varian yang lebih rendah, X2E-88-100, memang sekitar 15 persen lebih lambat saat emulasi. Tapi angka itu masih sangat wajar dan jauh dari jeblok 50-70% seperti generasi sebelumnya. Ini menunjukkan Qualcomm tidak hanya memperkuat core ARM-nya, tapi juga memperbaiki lapisan terjemahan x86 secara signifikan.
Efisiensi Daya yang Mulai Terasa
Yang juga bikin Snapdragon X2 menarik adalah efisiensi dayanya. Ketika stres tes dengan Prime95, sebuah laptop Lenovo Yoga Slim 7 14Q8Y11 berbasis Snapdragon X2E dan sebuah Asus ExpertBook Ultra berbasis Intel tercatat mengonsumsi daya sekitar 65 watt.
Artinya, saat kedua laptop ditekan penuh, konsumsi dayanya mirip-mirip saja. Tapi bedanya, laptop Snapdragon itu bisa menyelesaikan beban multi-threaded 50 persen lebih cepat. Efisiensi ini berarti kerja selesai lebih dulu dengan kalori yang sama, atau kerja lebih ringan dengan daya yang lebih rendah. Baterai juga tidak akan terkuras lebih boros meski performa puncaknya lebih tinggi.
GPU: Masih Ada PR Besar
Sayangnya, cerita di sisi grafis belum semanis cerita CPU. GPU Adreno X2-90 di Snapdragon X2 memang naik kelas dibanding generasi lalu, tapi masih terjepit di antara Radeon 890M dari AMD dan Arc B390 dari Intel. Arc B390 masih menjadi juara grafis terintegrasi saat ini.
Buat produktivitas dan game ringan, Adreno X2-90 sudah mumpuni. Tapi kalau kamu berharap performa gaming atau render GPU setara dengan peningkatan CPU-nya, ini bukan loncatan "homerun" yang dibayangkan. Qualcomm masih terus mengejar di sisi ini, dan mungkin butuh satu atau dua generasi lagi untuk benar-benar menyamai atau melewati Intel di GPU terintegrasi.
Intinya, kamu tetap perlu mengecek apakah game atau aplikasi grafis yang kamu pakai sensitif terhadap GPU ARM. Inkompatibilitas aplikasi masih menjadi momok kecil meski performa emulasi CPU sudah jauh membaik.
Ketersediaan dan Peluncuran
Laptop Snapdragon X2 sudah mulai tersedia sejak musim gugur 2026, dibawa oleh beberapa produsen termasuk Lenovo lewat lini Yoga Slim 7. Kehadirannya semakin meramaikan segmen laptop tipis dengan efisiensi baterai tinggi yang selama ini didominasi Intel dan AMD.
Meskipun belum ada informasi detail soal ketersediaan di Indonesia, pola distribusi laptop Snapdragon sebelumnya menunjukkan kita biasanya kebagian beberapa bulan setelah peluncuran global. Jadi wajar kalau sekarang masih belum banyak unit yang beredar di e-commerce lokal.
Ini bukan laptop murah, tentunya. Meski harga resmi belum disebut di sumber yang saya rangkum, laptop dengan chipset X2E biasanya menarget pasar laptop premium di atas 15-20 jutaan. Generasi ini layak dipertimbangkan kalau kinerja multi-core dan efisiensi jadi prioritas utama.
Snapdragon X2 berhasil membalikkan narasi bahwa laptop ARM sekadar pelengkap. Chipset ini kini jadi alternatif kuat yang tidak perlu malu-malu saat ditandingkan dengan Intel dan AMD. Tapi, ia bukan produk tanpa cela, GPU yang masih mengejar dan potensi ganjalan aplikasi lawas adalah dua hal yang perlu kamu terima dengan sadar. Buat yang banyak bekerja di ekosistem modern dan aplikasi ARM sudah memadai, laptop Snapdragon X2 mungkin justru pilihan yang lebih logis daripada laptop x86 sekaliber harganya.