Home Teknologi

Saya Coba Dua Sepeda Listrik Premium Pelago: Kesan Pertama yang Mengejutkan

19 Juli 2026 5 min read

Impresi pertama menjajal Pelago Olari dan Wellamo di Dresden: sepeda listrik premium dengan motor Mahle X30, bobot ringan 19 kg, dan desain klasik yang tidak berteriak soal kecanggihan.

Sepeda listrik premium Pelago Olari dan Wellamo yang diuji coba di Dresden
(Foto: Pelago)

Beberapa kilometer pertama di atas sadel sepeda biasanya sudah cukup untuk memberi gambaran. Begitu juga yang saya rasakan saat mendapat kesempatan menjajal dua model sepeda listrik dari Pelago di Dresden, Olari dan Wellamo. Ini bukan pengujian teknis yang mengupas tuntas setiap aspek. Lebih ke impresi awal, momen pertama mengenal karakter keduanya. Dan seperti pengalaman bersepeda pada umumnya, penilaian selalu subjektif, sedikit emosional, tapi justru di situlah letak kejujurannya.

  • Pelago Olari dan Wellamo sama-sama dibekali motor hub Mahle X30 dan baterai 250 Wh yang terintegrasi di rangka.
  • Keduanya hadir dengan desain minimalis: tanpa layar konvensional, hanya satu tombol dan indikator LED di stang.
  • Dengan harga sekitar Rp65,3 jutaan (€3,799), kedua model ini jelas menyasar segmen premium, bukan pasar massal.
  • Bobot sekitar 19 kg tergolong ringan untuk sepeda listrik dengan rangka baja dan perlengkapan komuter lengkap.

Apa yang Bikin Pelago Olari dan Wellamo Mirip, dan Apa yang Membedakan

Dari sisi teknis, Olari dan Wellamo seperti saudara kembar. Keduanya mengandalkan motor hub Mahle X30 yang senyap dengan baterai berkapasitas 250 Wh, ditanam rapi di dalam rangka. Baterainya bisa dilepas untuk perawatan. Tidak ada layar ramai di stang, hanya unit kontrol minimalis dengan satu tombol dan lampu indikator LED. Pelago memang menyediakan aplikasi pendamping, tapi mengoperasikan sepeda ini tidak bergantung padanya.

Sistem bantuan elektriknya disamarkan dengan cerdik. Kalau dilihat sepintas, kedua model ini tampak seperti sepeda konvensional. Satu-satunya petunjuk visual yang agak mencolok adalah hub belakang yang sedikit lebih besar. Sisanya, semua terintegrasi dengan halus.

Tapi begitu dinaiki, perbedaan keduanya langsung terasa. Wellamo hadir dengan rangka low-step, model yang memudahkan orang naik-turun, terutama saat pakai pakaian kerja. Posisi duduknya sangat tegak dan nyaman, seperti sedang duduk di kursi. Ada keranjang depan yang sudah terpasang dari bawaan.

Sementara Olari mempertahankan rangka diamond klasik yang lebih sporty. Saat kecepatan mulai naik, perbedaan ini makin terasa. Di Wellamo, posisi tegak membuat angin lebih terasa menerpa tubuh. Bukan masalah besar, cuma memang terasa lebih santai ketimbang Olari yang sedikit lebih aerodinamis.

Bagaimana Rasanya Dikayuh: Bukan Motor Listrik yang Kebetulan Punya Pedal

Ini bagian yang paling saya suka. Sistem Mahle di kedua sepeda ini tidak memberikan hambatan berarti saat pedal dikayuh, baik ketika motor dalam keadaan mati maupun saat sudah melewati batas bantuan 25 km/jam. Kayuhan tetap terasa ringan dan alami.

Akselerasinya cukup untuk kebutuhan harian. Tidak agresif, tapi responsif saat dibutuhkan. Bantuan motor disetel dengan pas: hadir tanpa mendominasi pengalaman bersepeda. Kedua model ini jelas masih sepeda dengan bantuan listrik, bukan motor listrik yang kebetulan punya pedal demi lolos regulasi.

Pelago tidak sedang mengejar pasar massal dengan Olari dan Wellamo. Bandrol sekitar Rp65,3 jutaan menempatkan keduanya di kelas premium, dan itu bukan angka yang kecil. Tapi kalau desain klasik yang timeless dimasukkan dalam perhitungan nilai, harga itu mulai terasa lebih masuk akal.

Bobot Ringan dan Detail Praktis yang Membuat Wellamo Menonjol

Satu kejutan menyenangkan dari sesi uji coba ini adalah bobotnya. Sekitar 19 kilogram untuk sepeda listrik dengan rangka baja plus spesifikasi komuter penuh, lampu, spatbor, standar samping, dan keranjang depan, itu tergolong ringan. Menurut keterangan Pelago, Olari bahkan lebih ringan sekitar 500 gram kalau dilengkapi rak depan saja.

Wellamo punya nilai tambah yang langsung terasa dalam pemakaian harian: keranjang depan itu. Untuk urusan praktis seperti menaruh tas belanjaan atau jaket, keberadaannya sangat membantu. Secara estetika, kedua model ini punya tampilan yang stylish. Memang selera desain itu subjektif, tapi sulit menyangkal kalau Olari dan Wellamo terlihat mahal dengan cara yang tidak mencolok.

Buat saya pribadi, pengalaman singkat ini cukup meyakinkan. Keduanya menyenangkan dikendarai, memberikan rasa yang solid, dan menawarkan pendekatan berbeda soal seperti apa sepeda listrik premium seharusnya, tidak berteriak soal kecanggihan, tapi membuktikannya lewat cara ia melaju.


Keranjang depan Pelago Wellamo yang praktis untuk penggunaan harian
Keranjang depan Pelago Wellamo sangat membantu untuk keperluan harian (Foto: Pelago)


#Tech#Pelago#Sepeda Listrik#Pelago Olari#Pelago Wellamo#Review#Sepeda Premium#Kendaraan Listrik
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →