Home Teknologi

China Larang Chatbot AI Romantis karena Khawatirkan Kecanduan dan Turunnya Angka Kelahiran

22 Juli 2026 5 min read

China resmi melarang chatbot AI romantis karena dinilai memicu kecanduan, mengikis interaksi sosial, dan mengancam angka kelahiran yang terus merosot. Aturan ini langsung direspons oleh raksasa teknologi setempat.

Ilustrasi larangan chatbot AI romantis di China yang menyoroti dampak kecanduan dan penurunan angka kelahiran
(Foto: Istimewa)

Pemerintah China tidak main-main soal batasan antara manusia dan mesin. Mulai 15 Juli 2025, chatbot AI yang menawarkan interaksi romantis secara resmi dilarang. Dan alasannya bukan sekadar keamanan data atau privasi, mereka dianggap mengancam hubungan sosial yang nyata, bahkan mempengaruhi angka kelahiran.

  • Regulasi baru China melarang anak di bawah umur menjalin hubungan dengan AI dan mewajibkan pengingat bahwa chatbot bukan manusia.
  • Raksasa teknologi seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent mulai menghapus atau membatasi fitur AI companion demi kepatuhan.
  • Sebagian pengguna merasa kehilangan berat setelah bertahun-tahun berinteraksi, sementara yang lain mencoba menyiasati pemblokiran.
  • Kekhawatiran utama datang dari penurunan demografi: hubungan virtual dianggap bisa menjauhkan orang dari pernikahan dan keinginan punya anak.

Aturan Baru: Larangan Tegas dan Desain yang Membatasi

Saya baca aturan ini dan langsung terbayang berapa banyak pengguna yang mungkin merasa dunia mereka runtuh. Peraturannya cukup rinci, tidak hanya sekadar blokir akses. Perusahaan penyedia layanan chatbot AI wajib membatasi durasi pemakaian, menyediakan opsi keluar yang mudah, dan, ini yang paling krusial, menampilkan pengingat berkala bahwa mereka sedang berbicara dengan program, bukan manusia.

Anak di bawah umur sama sekali tidak diizinkan terlibat dalam hubungan AI jenis ini. Poin ini menunjukkan betapa seriusnya kekhawatiran pemerintah: AI romantis bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sudah membentuk ikatan emosional yang bisa menggantikan relasi antar manusia.

Langkah ini tidak muncul di ruang hampa. China sedang menghadapi penurunan populasi yang cukup dalam. Para pembuat kebijakan di sana cemas bahwa semakin banyak orang dewasa muda yang nyaman bercengkerama dengan AI daripada mencari pasangan nyata, yang pada akhirnya bisa menekan angka pernikahan dan kelahiran, yang saat ini berada di titik terendah sepanjang sejarah negara itu.

Perusahaan Besar Patuh, Reaksi Pengguna Campur Aduk

ByteDance, Alibaba, dan Tencent bergerak cepat. Mereka sudah mulai mencabut atau membatasi layanan AI companion masing-masing agar sesuai dengan aturan baru. Buat sebagian pengguna, ini seperti kehilangan teman dekat yang sudah menemani bertahun-tahun.

Saya paham perasaan itu. AI companion memang bisa menjadi tempat curhat yang tidak menghakimi. Beberapa pengguna melaporkan rasa hancur yang mendalam setelah akses ke pasangan virtual mereka diputus. Ada pula yang mencoba mencari celah agar tetap bisa terhubung, tanda bahwa ikatan emosional dengan AI sudah terbentuk begitu kuat.

Di sisi lain, banyak pula yang mendukung regulasi ini. Mereka menilai pengawasan lebih ketat memang diperlukan untuk melindungi orang-orang yang rentan, terutama remaja, agar tidak tenggelam dalam hubungan buatan yang bisa membuat mereka makin terisolasi dari dunia nyata.

Fenomena ini jadi pengingat bahwa AI bukan cuma soal fitur canggih atau efisiensi. Ada sisi psikologis yang perlu dipikirkan lebih serius. Ketika seseorang lebih memilih curhat ke chatbot daripada ke manusia lain, ada tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan, baik oleh pembuat regulasi, pengembang, maupun kita sebagai pengguna.

#Tech#China#Kecerdasan Buatan#Chatbot#Regulasi AI#Kecanduan AI#Angka Kelahiran#Hubungan Virtual
Senja Arunika
Senja Arunika – Founder

Founder bysenja.com

Lihat semua artikel →